Translate
Kamis, 05 Desember 2013
TEORI PERKEMBANGAN ANAK
I. Penggolongan Teori Perkembangan
1. Jonas Langer salah seorang murid Werner yang pandai mengemukakan bahwa teori-teori mengenai perkembangan dan psikologi perkembangan, dikelompokkan dalam dua macam teori, yakni:
a. Cermin mekanistik
b. Lampu organik
Langer memberikan landasan ketiga kelompok teori perkembangan pada hubungan-hubungan antara konsep perubahan dan sistem-sistem yang ada pada seseorang. antara konsep perubahan dan sistem-sistem, ada hubungan korelatif yaitu pandangannya pada model manusia yang aktif dan pasif.
a. Cermin mekanistik
Teori ini memandang manusia sebagai organisme yang pasif. Langer mengemukakan tesisnya mengenai teori ini bahwa manusia tumbuh menjadi sesuatu seperti apa yang dibuat oleh lingkungannya agar ia menjadi sesuatu. Ketika anak dilahirkan, isi kejiwaannya kosong seperti cermin yang memantulkan cahaya ke lingkungannya. Tesis ini dilandasakan pada dua pandangan filosofis bahwa:
1. Isi kejiwaan seseorang dapat dianalisa menjadi bagian-bagian yang terkecil, yakni unsur-unsur kejiwaan (elemen-elemen).
2. Tekanan-tekanan dari lingkungan mempengaruhi penginderaan anak dan meninggalkan impresi dasar.
Para ahli yang tergolong pada teori cermin mekanistik dewasa ini menitikberatkan pada reaksi-reaksi tingkah laku dan bahwa terhadap anak dapat dilakukan observasi-observasi bagaimana si anak bereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang timbul di lingkungannya. Teori ini ingin menjawab pertayaan mengapa anak bertingkah laku, misalnya karena adanya dorongan dan kebutuhan. Disamping itu ingin diketahui, faktor apa yang menyebabkan timbulnya pengulangan suatu reaksi atau sesuatu tingkah laku, misalnya karena ada hukuman atau hadiah.
Teori cermin mekanistik mengemukakan pentingnya lingkungan sebagai sumber yang memberikan rangsangan pada anak, anank diibaratkan cermin yang memantukan cahaya. Konsep pertumbuhan pada teori ini yang menjadi sumber gejala-gejala psikis adalah lingkungan, karena itu disebut environmentalistik.
Obyek-obyek yag ada di lingkungan anak melalui bbermacam-macam cara dapat ditentukan dengan hukum-hukum fisikal adalah sumber rangsangan terhadap anak. Karena terikat dengan hukum-hukum fisik, maka disebut fisikalisasi. Pavlov mengemukakan hubungan antara tubuh dan aspek psikis dapat diterangkan dari sudut fisik, misalnya refleks-refleks yaitu gerakan otomatis terhadap sesuatu rangsangan. Karena sifatnya fisi, maka bisa dijadikan obyek-obyek penelitian dengan dasar-dasar eksakta. Langer mengemukakan bahwa kelompok kedua yang tergolong teori cermin mekanistik ialah mereka yang mengatakan bahwa pross persepsi dan sosial belajar terjadi melalui imitasi. Pada sosial belajar dikemuakan bahwa konsepsi-konsepsi anak adalah dasar tingkah laku sosial dan persepsi-persepsi ini terjadi melalui imitasi terhadap model-model yang ada dalam lingkungan sosialnya. Persepsi belajar menitikberatkan peranan respon-respon motorik dalam usaha memperoleh model-model dari obyek-obyek di luar dirinya. langer mengemukakan kelompok lain yang masih tergolong teori cermin mekanistik dan pendapatnya mengenai adanya respon-repon tertentu yang ada pada anak, tetapi yang tidak dapat dilihat dari luar, ini diistilahkan dengan mediasi. Di dalam diri seseorang terjadi proses yang bisa asosiatif dan yang sederhana, tetapi bisa lebih kompleks untuk dibentuk menjadi rangkaian-rangkaian tertentu. Rangkaian itu pada akhirnya memang bisa ditunjukkan dalam tingkah laku yag terlihat atau dapat diamati.
b. Teori Lampu Organik
Teori ini memandang manusia sebagai model makhluk yang aktif. Langer mengemukakan tesisnya dengan istilah otogenetiktesis yang memandang manusia berkembang menjadi apa yang dibentuknya sendiri dengan aktivitas-aktivitasnya sendiri. Para ahli yang tergolong kelompok ini menaruh perhatian terutama terhadap proses-proses yang mendasari suatu tingkah laku melalui urutan-urutan pada tahap-tahap perkembangan. Tahap-tahap perkembangan ini terjadi secara beruntun dan tiap tahap adalah penting untuk terjadinya tahap-tahap perkembangan berikutnya.
Teori lampu organik menitikberatkan pada proses-proses otogenetik perkembangan. Prinsip ini menunjukkan bahwa perkembangan terjadi dari sesuatu yag secara relatif tidak ada keseimbangan ke sesuatu yang menimbulkan keadaan seimbang dengan lingkungannya. Titik tolak teori ini adalah konsepnya tentang aksi-aksi spontan yang diperlihatkan melalui tingkh laku, dimana tentu ada faktor pengalaman dan perkembangan yang berperan bersama-sama secara dengan sendirinya. Ditinjau dari sudut perkembangannya, anak telah memperoleh alat-alat dan jari-jarinya yang lengkap yang memungkinkannya memperkembangkan dan mengaktualisasikan dirinya. karena itu, pada teori lampu organik ini pengetahuan mengenai kekuatan dan kelebihan genetik dan transformasi-transformasi perkembangan dititikberatkan.
D. P. Ausubel dan E. V. Sullivan menunjukkan hubungan-hubungan interaksional antara konsep dan dasar dalam perkembangan secara struktural. Pengelompokannya yaitu:
a. kelompok yang melakukan pendekatan Preformasionis.
Pendekatan preformasionis menganggap semua kemampuan dasar pada ciri-ciri kepribadian yang sudah ada, terbentuk ketika dilahirkan. Ketika anak dilahirkan anak sudah mempunyai struktur tertentu dengan jadwal waktu yang sudah terencana untuk berkembang, pemikiran ini sejalan dengan konsep teologis dilihat dari sudut Agama Kristen yang mengatakan bahwa manusia ketika dilahirkan sudah berdosa. Dosa ini merupakan dosa warisan yang diperbuat oleh manusia pertama yakni Adam dan Hawa. Dengan titik tolak pandangan teologis, peranan pendidikan menjadi agak berkurang dan timbul apa yang kemudian dikenal dengan istilah pesimisme pendidikan.
b. kelompok yang melakukan pendekatan predeterministik.
Pendekatan predeterministik berbeda dengan pendekatan preformasionis. Pada pendekatan predeterministik, hasil yang dicapai pada suatu masa perkembangan tidak ditentukan secara mutlak oleh apa yang memang sudah ada, melainkan merupakan hasil proses diferensiasi yang kualitatif dan perkembangan-perkembangan evolusioner pada suatu bentuk.
J. J. Rousseau (1712-1778) dianggap sebagai tokoh yang pertama mengemukakan pendekatan predeterministik ini. Rousseau mengemukakan bahwa semua perembangan terdiri dari serangkaian tahap-tahap yang mengatur sendiri dan yang dipindahkan dari yang satu kepada yang lain melalui pola-pola yang sudah tertentu. Menurut Rousseau, peranan lingkungan hanya mencegah bilamana ada gangguan terhadap proses-proses pengaturan sendiri dan kematangan-kematangan yang terjadi secara spontan. Bertentangan dengan paham manusia pada waktu kelahirannya pun makhluk yang berdosa, Rousseau mengemukakan sebaliknya, yaitu bahwa manusia ketika dilahirkan pada dasarnya baik dan masyarakatlah yang menjadi sumber timbulnya sifat buruk pada manusia. Pendapat Rousseau mempunyai pengaruh yang besar dalam dunia pendidikan, dimana peranan dan fungsi anak sangat diperhatikan.
c. Kelompok Tabula Rasa
Pengertian tabula rasa sebenarnya hanya mencakup sebagian kecil dari seluruh disposisi dalam perkembangan, karena hanya melukiskan keadaan anak pada waktu lahir. J. Locke menggambarkan bahwa pentingnya lingkungan hidup dalam mempengaruhi bahkan mencipta arah dan perkembangan-perkembangannya. Peranan faktor keturunan dan faktor yang timbul ari dalam diri anak menjadi kecil sekali dalam mempengaruhi tingkah laku yang timbul. Karena semua tingkah laku adalah hasil mempelajari sesuatu atau hasil proses belajar, maka dengan mengarahkan proses belajar tertentu, tingkah laku yang tidak baik, yang tidak diterima lingkungannya dapat diganti dengan tingkah laku yang dikehendaki. Suatu latar belakang sosial atau kebudayaan tertentu akan memberikan pola tertentu pada tingkah laku orang-orang yang ada didalamnya.
R. M. Lerner (1976) mengemukakan pendekatan untuk memberi gambaran mengenai psikologi perkembangan, yakni:
a. teori penahapan
Teori penahapan disebut juga teori klasik. Perkembangan terbagi melalui tahapan-tahapan dari yang satu kepada yang lain secara bertingkat. Antara tahap yang satu dengan tahap yang lain terdapat masa perkembangan dengan cirinya masing-masing. Sifat-sifat teori penahapan ini ialah:
1. Mengikuti konsep mengenai adanya kontinuitas-diskontinuitas, dan kuantitatif-kualitatif serta epigenetis dalam perkembangan.
2. Mengikuti pandangan interaksionisme antara faktor konstitusi dan faktor lingkungan, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan dalam tekanan.
3. Mengakui bahwa ada masa-masa kritis dalam perkembangan, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan pendapat daam mengemukakan seberapa jauh kritisnya suatu masa kritis, serta pada tahapan-tahapan perkembangan mana dan utuk ciri-ciri kepribadian apa terdapat masa-masa kritis itu.
b. Pendekatan diferensial
Pendekatan diferensial dipergunakan untuk tujuan-tujuan empiris dan berusaha menerangkan adanya perbedaan-perbedaan tingkah laku dalam perkembangan pada kelompok atau subkelompok. Dasar untuk mengelompokkan ini ada dua macam atribut yaitu: atribut status, yang mengelompokkan orang-orang atas dasar, umur, jenis kelamin, latar belakang keturunan, agama, sedangkan atribut yang kedua ialah atribut tingkah laku yaitu dimensi tingkah laku yang bersifat dua pola kontunuitas misalnya kebebasan-keterikatan.
c. Pendekatan ipsatif
Pendekatan ipsatif mempunyai orientasi yang terutama idiografis, yakni ingin mengetahui hukum-hukum yang ada atau yang bisa berlaku pada satu individu yang sedang berkembang. Pada pendekatan ipsatif ada dua komponen yaitu: atribut repertoire adalah atribut yang ada pada seorang pada perbedaan-perbedaan tahap perkembangan yang bersifat vertikal. Sedangkan komponen yang kedua ialah atribut saling berhubungan yaitu atribut yang ada pada seseorang dengan tingkatan-tingkatan fungsi yang berlainan karena berbeda tahapan perkembangannya. Pendekatan ipsatif yang menitikberatkan sifat-sifat yang berbeda secara perorangan, berusaha mengetahui dasar-dasar atau pola-pola yang menyebabkan adanya perubahan ciri-ciri tingkah laku atau juga ciri-ciri yang menetap dalam perkembangan tingkah laku.
Tanggapan
Tanggapan Positif
Buku ini bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mendalami perkembangan anak. Buku ini menguraikan para tokoh psikologi secara praktis da sederhana yang dapat dijadikan pedoman bagi orang tua. Buku ini juga sangat membantu bagi mahasiswa jurusan psikologi atau jurusan lain yang terkait dengan dunia perkembangan anak karena di dalamnya terdapat paparan mengenai dasar dan konsep yang berhubungan dengan perkembangan anak serta uraian tentang berbagai aspek perkembangan anak.
Tanggapan Negatif
Buku ini sedikit membingungkan jika kita tidak cermat dalam memahami buku ini. Dalam buku ini, adanya pembagian poin-poin yang tidak sama dalam penulisannya sehingga harus benar-benar teliti.
Sumber : Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa, Dasar dan Teori Perkembangan Anak, penerbit: Libri, 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar