Perencanaan pembelajaran
a. Pengertian perencanaan pembelajaran
Dilihat dari terminologinya, perencanaan pembelajaran terdiri atas dua kata, yaitu perencanaan dan kata pembelajaran. Perencanaan berasal dari kata rencana yaitu pengambilan keputusan tentang apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian proses suatu perencanaan harus dimulai dari penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analisis kebutuhan serta dokumen yang lengkap, kemudian menetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Ketika kita merencanakan, maka pola pikir kita diarahkan bagaimana agar tujuan itu dapat dicapai secara efektif dan efisien. Ely (1979), mengatakan bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan. Terry (1993), mengatakan bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah penetapan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Maka setiap perencanaan minimal memiliki empat unsur sebagai berikut:
Adanya tujuan yang harus dicapai
Adanya strategi iuntuk mencapai tujuan
Sumber daya yang dapat mendukung
Implementasi setiap keputusan
Perencanaan merupakan hasil proses berpikir yang mendalam, hasil dari proses pengkajian dan mungkin penyeleksian dari berbagai alternatif yang dianggap lebih memiliki nilai efektivitas dan efisiensi. Perencanaan adalah awal dari semua proses suatu pelaksanaan kegiatan yang bersifat rasional.
b. Arti pembelajaran
Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber daya yang ada baik potensi yang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri seperti minat, bakat dan kemampuan dasar yang dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi yang ada diluar diri siswa termasuk lingkungan, sarana dan sumber belajar sebagai upaya untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Menurut Gagne, mengajar atau teaching merupakan bagian dari pembelajrana (instruction), dimana peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu.
Perencanaan pembelajaran memiliki karakteristik, yaitu:
1. Perencanaan pembelajran merupakan hasil dari proses berpikir, artinya suatu perencanaan pembelajaran disusun tidak asal-asalan akan tetapi disusun dengan mempertimbangkan segala aspek yang mungkin dapat berpengaruh.
2. Perencanaan pembelajaran disusun untuk mengubah perilaku siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
3. Perencanaan pembelajran berisi tentang rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu perencanaan pembelajaran berfungsi sebagaipedoman dalam mendesain pembelajaran sesuai dengan kebutuha.
Manfaat perencanaan
a. Terhindar dari keberhasilan yang untung-untungan.
b. Sebagai alat memecahkan masalah.
c. Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat.
d. Perencanaan akan dapat membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis artinya proses pembelajaran tidak akan berlangsung seadanya, akan tetapi berlangsung secara terorganisisr dan terarah.
Translate
Selasa, 26 November 2013
Rabu, 20 November 2013
komponen kurikulum
Nama : Marinda Pardede
Mata Kuliah : Pengembangan Kurikulum PAK
Dosen pengampu : Drs. Uli Saut P. Nainggolan, M. Th
komponen-komponen KURIKULUM
Sebagaimana dimaklumi bahwa manusia atau binatang sebagai suatu organisme, memiliki susunan atau unsur-unsur anatomi tertentu, dimana yang satu dengan lainnya saling menopang. Demikian halnya dengan kurikulum pendidikan yang di dalamnya terdapat berbagai bagian yang saling mendukung dan membentuk satu kesatuan. Unsur atau komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah : tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi, yang kempatnya berkaitan erat satu dengan lainnya.
a. Tujuan
Dalam kurikulum atau pengajaran, tujuan memegan peranan penting yaitu akan mengarahkan semua kegiatan pengajaran dan mewarnai komponen kurikulum lainnya. Tujuan kurikulum didasarkan pada dua hal, yaitu pertama, perkembangan tuntutan, kebutuhan, dan kondisi masyarakat, dan yang kedua, didasari oleh pemikiran-pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis, terutama falsafah negara. Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistrm Pendidikan Nasional, bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.Tujuan pendidikan nasional yang berjangka panjang merupakan suatu tujuan pendidikan umum, sedangakan tujuan instruksional yang berjangka pendek disebut tujuan khusus. Tujuan khusus memberikan keuntungan yaitu memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan mengajar-belajar siswa, membantu memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar, memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media mengajar, dan memudahkan guru dalam penilaian.
Tujuan mengajar dibedakan atas beberapa kategori, sesuai dengan perilaku yang menjadi sasarannya. Gage dan Briggs mengemukakan lima kategori tujuan, yaitu intelektual skills, cognitive strategies, verbal information, motor skills and attitudes. Bloom mengemukakan tiga kategori tujuan mengajar sesuai dengan domain-domain perilaku individu, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kognitif berkenaan dengan penguasaan kemampuan-kemampuan intelektual atau berpikir, afektif berkenaan dengan penguasaan danpengembangan perasaan, sikap, minat, dan nilai-nilai. Psikomotor menyangkut penguasaan dan pengembangan keterampilan motorik.
b. Bahan Ajar
Siswa belajar dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya, lingkungan orang-orang, alat-alat dan ide. Tugas utama seorang guru adalah menciptakan lingkungan tersebut, untuk mendorong siswa melakukan interaksi produktif dan memberikan pengalaman belajar yang dibutuhkan. Kegiatan dan lingkungan demikian dirancang dalam suatu rencana mengajar. Siswa belajar dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Sebagai perantara mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, diperlukan bahan ajar atau materi pendidikan. Materi pendidikan tersusun atas topik-topik dan sub topik tertentu.
Dalam rangka memilih bahan ajar atau materi pendidikan, beberapa kriteria diantaranya: (1) harus valid dan signifikan, (2) harus berpegang pada realitas sosial, (3) kedalam dan keluasannya harus seimbang, (4) menjangkau tujuan yang luas, (5) dapat dipelajari dan disesuaikan dengan pengalaman siswa, dan (6) harus dapat memenuhi kebutuhan dan menarik minat peserta didik. Gagne mengemukakan 8 tipe beljar yang tersusun secara hierarkis, yaitu: signal learning, stimulus-respons learning, motor-chain learning, verbal association, multiple discrimination, concept learning, principle learning, dan problem solving learning.
c. Strategi Mengajar
Pada saat guru sedang menyusun bahan ajar, ia juga harus memikirkan srategi mengajar mana yang sesuai untuk menyajikan bahan ajar. Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam mengajar:
1. Reception/ Exposition Learning
Reception dan exposition sesungguhnya mempunyai makna yang sama, hanya berbeda dalam pelakunya. Reception learning dilihat dari sisi siswanya, sedangkan exposition learning dilihat dari sisi gurunya. Dalam discovery learning, bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan, bahan serta membuat kesimpulan. Melalui kegiatan tersebut, siswa akan menguasainya, menerapkan serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya.
2. Rote learning – Meaningful Learning
Bahan ajar disampaikan kepada siswa tanpa memperhatikan arti atau maknanya bagi siswa. Siswa menguasai bahan ajar dengan cara menghapalkannya. Dalam meaningful learning, penyampaian bahan mengutamakan maknanya bagi siswa.
3. Group Learning – Individual Learning
Pelaksanaan discovery Learning menuntut aktivitas belajar yang bersifat individual atau dalam kelompok kecil. Discovery learning dalam bentuk kelas pelaksanaannya agak sukar karena beberapa masalah seperti anak pintar yang akan bisa melakukan discovery, sedangkan siswa yang kurang dan lamban, akan mengikuti dan menonton. Dengan demikian akan terjadi perbedaan yang semakin jauh antara anak yang pandai dan kurang.
d. Media mengajar
Media mengajar merupakan segala macam bentuk perangsang dan alat-alat yang disediakan guru untuk mendorong siswa belajar. Rowntree mengelompokkan media mengajar menjadi lima macam dan disebut modes, yaitu:
1. Interaksi insani, media ini merupakan komunikasi langsung antara dua orang atau lebih. Dalam komunikasi tersebut kehadiran sesuatu pihak secara sadar atau tidak sadar mempengaruhi perilaku lainnya.interaksi insani dapat berlangsung melalui komuikasi verbal dan nonveerbal. Komunikasi verbal memegang peranan penting terutama dalam perkembangan segi kognitif siswa. Komunikasi nonverbal : perilaku, penampilan fisik, roman muka, sikap.
2. Realita, merupakan bentuk perangsang nyata seperti orang, binatang, benda, peristiwa yang diamati siswa. Orang hanya menjadi objek pengamatan.
3. Pictorial, menunjukkan penyajian berbagai bentuk variasi gambar dan diagram nyata ataupun simbol. Penyajiannya dapat bervariasi dari bentuk yang paling sederhana seperti sketsa sampai cukup sempurna seperti animasi yang disajikan dalam komputer.
4. Simbol tertulis, media penyajian yang paling umu, tapi efektif. Macamnya yaitu: buku, majalah. Penulisan simbol tertulis biasnaya dilengkapi dengan media pictorial sperti gambar, bagan, grafik.
5. Rekaman suara, berbagai bentuk informasi dapat disampaikan kepada anak didik dalam bentuk rekaman suara.
e. Evaluasi pengajaran
Evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksanaan mengajar secara keseluruhan. Evaluasi disebut juga hasil belajar-mengajar. dalam evaluasi ini disusun butir-butir soal untuk mengukur pencapaian tiap tujuan khusus yang telah ditentukan. Evaluasi formatif ditujukan untuk menilai penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan belajar dalam jangka waktu relatif pendek. Evaluasi formatif digunakan untuk menilai penguasaan siswa setelah mempelajari satu pokok bahasan. Evaluasi sumatif ditujukan untuk menilai penguasaan siswa terhadap tujuan yang lebih luas, sebagai hasil belajar yang cukup lama. Evaluasi sumatif dimaksudkan untuk menilai kemajuan belajar siswa serta menilai efektivitas program secara menyeluruh.
Komponen yang dievaluasi bukan hanya hasil belajar-mengajar, tapi keseluruhan pelaksanaan pengajaran. Untuk mengevaluasi komponen dan proses pelaksanaan mengajar bukan hanya digunakan tes tetapi juga digunakan bentuk nontes, seperti observasi, analisis hsil pekerjaan, angket. Evaluasi dapat dilakuakn oleh guru dan pihak yang berwenang atau diberi tugas.
f. Penyempurnaan pengajaran
Hasil evaluasi, baik evaluasi hasil belajar, meupun pelaksanaan mengajar secara keseluruhan. Sesuai dengan komponen yang dievaluasi, pada dasarnya semua komponen mengajar kemungkinan untuk disempurnakan. Hal ini mungkin dilaksanakan dengan sendiri oleh guru, mungkin dibutuhkan bantuan atau saran dari orang lain.
g. Komponen Pelaksana: pendidik
Pendidikan merupakan proses interaksi antara guru (pendidik) dengan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Pekerjaan mendidik merupakan pekerjaan profesional, sehingga guru sebagai pelaku utama pendidikan merupakan pendidik profesional. Peranan guru sebagai pendidik profesional akhir-akhir ini dipertanyakan eksistensinya, akibat munculnya serangkaian fenomena lulusan pendidikan yang secara moral cenderung merosot dan secara intelektual akademik juga kurang siap memasuki lapangan kerja.
Kalau fenomena tersebut benar adanya, maka baik langsung maupun tidak langsung akan terkait dengan peranan guru sebagai pendidik profesional. Sehingga sejalan dengan hal tersebut terkait dengan masalah pendidik sebagai komponen kurikulum pendidikan, perlu diperhatikan beberapa hal yaitu: kualifikasinya, pengembangan tenaga pendidik.
h. Peserta didik
Banyak sebutan di sekitar kita mengenai peserta didik ini. Ada yang menyebut murid, siswa, anak didik dan berbagai sebutan lainnya. Beberapa hal yang perlu dikembangkan terkait dengan komponen peserta didik (input) antara lain adalah persyaratan penerimaan (rekrutmen) siswa baru. Selain itu juga perlu diperhatikan mengenai rumusan tentang kualitas output peserta didik yang diinginkan, akan dibawa ke mana anak didiknya harus secara jelas dan tegas dirumuskan.
Kemudian yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah jumlah peserta didik yang diinginkan, karena ini akan berkaitan erat dengan kapasitas sarana pendidikan yang dimiliki oleh sebuah lembaga pendidikan. Dan tak kalah pentingnya adalah latar belakang peserta didik, baik itu mengenai pendidikannya, sosialnya, budayanya, pengalaman hidupnya, potensi, minat, bakat, dan lainnya.
i. Bimbingan dan konseling
Bimbingan dan penyuluhan adalah terjemahan dari bahasa Inggris guidance (bimbingan) dan counseling (penyuluhan). Bimbingan mengandung pengertian proses pemberianbantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sedangkan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada klien dalam memecahkan masalah kehidupan dengan wawancara face to face atau yang sesuai dengan keadaan klien yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.
Sedangkan bimbingan dan konseling dalam pendidikan merupakan proses pengajaran dan pembelajaran psikososial yang berlaku dalam bentuk tatap muka antara konselor dengan peserta didik, dalam rangka antara lain memperkembangkan pengertian dan pemahaman pada diri siswa untuk mencapai kemajuan di sekolah. Pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam pendidikan akan efektif dan berhasil apabila dilaksanakan atau dilakukan oleh suatu tim kerja (team work). Kemudian tim kerja inilah kemudian yang akan menyusun program perencanaan kegiatan bimbingan dan konseling di lembaga pendidikan.
Program perencanaan kegiatan bimbingan dan konseling perlu disusun agar upaya kegiatan layanan bimbingan di sekolah benar-benar berdaya guna dan berhasil guna, serta mengena pada sasarannya sebagai sarana pencapaian tujuan pendidikan.
Selain itu dalam kegiatan bimbingan dan konseling perlu diperhatikan pula strategi pendekatannya, jenis program dan layanannya, proses layanan serta termasuk di dalamnya teknik bimbingan dan konselingnya.
Kesimpulan
Kurikulum diumpamakan sebagai suatu organisme manusia maupun bianatang, yang memiliki anatomi tertentu. Begitu juga kurikulum, yang mempunyai unsur-unsur didalamnya antara lain : tujuan, bahan ajar, strategi mengajar, media mengajar, evaluasi pengajaran, penyempurnaan pengajaran, pendidik, peserta didik, bimbingan dan konseling. Satu sama lain berkaitan. Kurikulum harus mempunyai relevansi atau kesesuaian yaitu antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi serta perkembangan masyarakat.
unsur pengembangan kurikulum
Unsure-unsur dalam Pengembangan Kurikulum
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu:
a. Administrator pendidikan
Para administrator pendidikan ini terdiri atas diirektur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor kabupaten, dan kecamatan, serta kepala sekolah. Peranan para administrator di tingkat pusat (direktur dan kepala pusat) dalam pengembangan kurikulum adalah menyusun dasar-dasar hukum, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum. Atas dasar kerangka dasar dan program inti tersebut para admnisitrator daerah (kepala kantor wilayah) dan administrator local (kabupatan, kecamatan, dan kepala sekolah) mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Para kepala sekolah mempunyai wewenang dalam membuat operasionalisasi system pendidikan pada masing-masng sekolah. Para kepala sekolah ini sesungguhnya secara terus menerus terlibat dalam pengembangan dan implementasi kurikulum, memberikan dorongan dan bimbingan kepada guru-guru. Walaupun guru dapat mengembangkan kurikulum sendiri, tapi dalam pelaksanaannya sering harus didorong dan dibantu oleh para administrator. Administrator local harus bekerja sama dengan kepala sekolah dan guru dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mengkomunikasikan system pendidikan kepada masyarakat, serta mendorong pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di kelas. Peranan kepala sekolah lebih banyak berkenaan dengan implementasi kurikulum di sekolahnya. Kepala sekolah juga mempunyai peranan kunci dalam menciptakan kondisi untuk pengmbangan kurikulum di sekolahnya. Ia merupakan figure kunci di sekolah, kepemimpinan kepala sekolah sangat mempengaruhhi suasana sekolah dan pengembangan kurikulum.
b. Para ahli
Pengembangan kurikulum membutuhkan bantuan pemikiran para ahli, baik ahli pendidikan, ahli kurikulum, maupun ahli bidang studi.
Partisipasi ahli pendidikan dan ahli kurikulum terutama sangat dibutuhkan dalam pengembangan kurikulum pada tingkat pusat. Apabila pengembangan kurikulum sudah banyak dilakukan pada tingkat daerah atau local, maka partisipasi mereka pada tingkat daerah, local bahkan sekolah juga sangat diperlukan, sebab apa yang telah digariskan pada tingkat pusat belum tentu dengan mudah dipahami oleh para pengembang dan pelaksana kurikulum di daerah.
Pengembangan kurikulum juga membutuhkan partisipasi para ahli bidang studi yang juga mempunyai wawasan tentang pendidikan serta perkembangan tuntutan masyarakat. Sumbangan mereka dalam memilih materi bidang ilmu, yang mutakhir dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat sangat diperlukan. Mereka juga sangat diharapkan pastisipasinya dalam menyusun materi ajaran dalam sekuens yang sesuai dengan struktur keilmuan tetapi sangat memudahkan para siswa untuk mempelajarinya.
c. Guru
Guru memegang peranan penting yang cukup penting baik di dalam perencanaan dan pelaksanaan kurikulum. Dia adalah perencana, pelaksana, dan pengembangan kurikulum bagi kelasnya. Sekalipun dia tidak mencetuskan sendiri konsep tentang kurikulum, guru merupakan penerjemah kurikulum yang datang dari atas. Dialah yang mengolah, meramu kembali kurikulum dari pusat untuk disajikan di kelasnya. Karena guru merupakan barisan pengembang kurikulum yang terdepan, maka guru pulalah yang selalu melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap kurikulum. Peranan guru bukan hanya menilai perilaku dan prestasi murid, tapi juga menilai implementasi kurikulum dalam lingkup yang lebih luas. Sebagai pelaksana kurikulum maka guru pulalah yang menciptakan kegiatan belajar mengajar bagi murid-muridnya. Berkat keahlian, keterampilan, dan kemampuan seninya dalam mengajar, guru mampu menciptakan situasi belajar yang aktif yang menggairahkan yang penuh kesungguhan dan mampu mendorong kreativitas anak.
d. Orang tua murid
Orang tua juga mempunyai peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan mereka dapat berkenaan dengan dua hal : pertama dalam penyusunan kurikulum dan kedua dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum mungkin tidak semua orang tua dapat ikut serta, hanya terbatas pada beberapa orang saja yng cukup waktu dan mempunyai latar belakang yang memadai. Peranan orang tua lebih besar dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam pelaksanaan kurikulum diperlukan kerja sama yang sangat erat antara guru/ sekolah dengan orang tua mmurid. Sebagian kegiatan belajar yang dituntut kurikulum dilaksanakan di rumah, dan orang tua sewajarnya mengikuti dan mengamati kegiatan belajar anaknya di rumah. Orang tua juga secara berkala menerima laporan kemajuan anaknya dari sekolah berupa rapor, dan sebagainya. Rapor juga merupakan suatu alat komunikasi tentang program atau kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah. Orang tua juga dapat turut berpartisipasi dalam kegiatan disekolah melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, lokakarya, seminar, pertemuan orang tua-guru, pameran sekolah, dan sebagainya.
Melalui pengamatan dalam kegiatan belajar di rumah, laporan sekolaj, partisipasi kegiatan sekolah, orang tua dapat turut serta dalam pengembangan kurikulum terutama dalam bentuk pelaksanaan kegiatan belajar yang sewajarnya, minat yang penuh, usaha yang sungguh-sungguh, penyelesaian tugas-tugas serta partisipasi dalam setiap kegiatan di sekolah. Kegiatan tersebut akan memberikan umpan balik bagi penyempurnaan kurikulum.
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu:
a. Administrator pendidikan
Para administrator pendidikan ini terdiri atas diirektur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor kabupaten, dan kecamatan, serta kepala sekolah. Peranan para administrator di tingkat pusat (direktur dan kepala pusat) dalam pengembangan kurikulum adalah menyusun dasar-dasar hukum, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum. Atas dasar kerangka dasar dan program inti tersebut para admnisitrator daerah (kepala kantor wilayah) dan administrator local (kabupatan, kecamatan, dan kepala sekolah) mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Para kepala sekolah mempunyai wewenang dalam membuat operasionalisasi system pendidikan pada masing-masng sekolah. Para kepala sekolah ini sesungguhnya secara terus menerus terlibat dalam pengembangan dan implementasi kurikulum, memberikan dorongan dan bimbingan kepada guru-guru. Walaupun guru dapat mengembangkan kurikulum sendiri, tapi dalam pelaksanaannya sering harus didorong dan dibantu oleh para administrator. Administrator local harus bekerja sama dengan kepala sekolah dan guru dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mengkomunikasikan system pendidikan kepada masyarakat, serta mendorong pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di kelas. Peranan kepala sekolah lebih banyak berkenaan dengan implementasi kurikulum di sekolahnya. Kepala sekolah juga mempunyai peranan kunci dalam menciptakan kondisi untuk pengmbangan kurikulum di sekolahnya. Ia merupakan figure kunci di sekolah, kepemimpinan kepala sekolah sangat mempengaruhhi suasana sekolah dan pengembangan kurikulum.
b. Para ahli
Pengembangan kurikulum membutuhkan bantuan pemikiran para ahli, baik ahli pendidikan, ahli kurikulum, maupun ahli bidang studi.
Partisipasi ahli pendidikan dan ahli kurikulum terutama sangat dibutuhkan dalam pengembangan kurikulum pada tingkat pusat. Apabila pengembangan kurikulum sudah banyak dilakukan pada tingkat daerah atau local, maka partisipasi mereka pada tingkat daerah, local bahkan sekolah juga sangat diperlukan, sebab apa yang telah digariskan pada tingkat pusat belum tentu dengan mudah dipahami oleh para pengembang dan pelaksana kurikulum di daerah.
Pengembangan kurikulum juga membutuhkan partisipasi para ahli bidang studi yang juga mempunyai wawasan tentang pendidikan serta perkembangan tuntutan masyarakat. Sumbangan mereka dalam memilih materi bidang ilmu, yang mutakhir dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat sangat diperlukan. Mereka juga sangat diharapkan pastisipasinya dalam menyusun materi ajaran dalam sekuens yang sesuai dengan struktur keilmuan tetapi sangat memudahkan para siswa untuk mempelajarinya.
c. Guru
Guru memegang peranan penting yang cukup penting baik di dalam perencanaan dan pelaksanaan kurikulum. Dia adalah perencana, pelaksana, dan pengembangan kurikulum bagi kelasnya. Sekalipun dia tidak mencetuskan sendiri konsep tentang kurikulum, guru merupakan penerjemah kurikulum yang datang dari atas. Dialah yang mengolah, meramu kembali kurikulum dari pusat untuk disajikan di kelasnya. Karena guru merupakan barisan pengembang kurikulum yang terdepan, maka guru pulalah yang selalu melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap kurikulum. Peranan guru bukan hanya menilai perilaku dan prestasi murid, tapi juga menilai implementasi kurikulum dalam lingkup yang lebih luas. Sebagai pelaksana kurikulum maka guru pulalah yang menciptakan kegiatan belajar mengajar bagi murid-muridnya. Berkat keahlian, keterampilan, dan kemampuan seninya dalam mengajar, guru mampu menciptakan situasi belajar yang aktif yang menggairahkan yang penuh kesungguhan dan mampu mendorong kreativitas anak.
d. Orang tua murid
Orang tua juga mempunyai peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan mereka dapat berkenaan dengan dua hal : pertama dalam penyusunan kurikulum dan kedua dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum mungkin tidak semua orang tua dapat ikut serta, hanya terbatas pada beberapa orang saja yng cukup waktu dan mempunyai latar belakang yang memadai. Peranan orang tua lebih besar dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam pelaksanaan kurikulum diperlukan kerja sama yang sangat erat antara guru/ sekolah dengan orang tua mmurid. Sebagian kegiatan belajar yang dituntut kurikulum dilaksanakan di rumah, dan orang tua sewajarnya mengikuti dan mengamati kegiatan belajar anaknya di rumah. Orang tua juga secara berkala menerima laporan kemajuan anaknya dari sekolah berupa rapor, dan sebagainya. Rapor juga merupakan suatu alat komunikasi tentang program atau kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah. Orang tua juga dapat turut berpartisipasi dalam kegiatan disekolah melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, lokakarya, seminar, pertemuan orang tua-guru, pameran sekolah, dan sebagainya.
Melalui pengamatan dalam kegiatan belajar di rumah, laporan sekolaj, partisipasi kegiatan sekolah, orang tua dapat turut serta dalam pengembangan kurikulum terutama dalam bentuk pelaksanaan kegiatan belajar yang sewajarnya, minat yang penuh, usaha yang sungguh-sungguh, penyelesaian tugas-tugas serta partisipasi dalam setiap kegiatan di sekolah. Kegiatan tersebut akan memberikan umpan balik bagi penyempurnaan kurikulum.
Senin, 11 November 2013
silabus perencanaan pembelajaran
SILABUS
PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran :
Pendidikan Agama Kristen
Guru : Marinda Pardede
Kelas : XII SMA/SMK
Standar Kompetensi : Pemuda/ pemudi Kristen dapat menjadi garam dan terang dunia dalam
mengikuti perkembangan zaman
|
No
|
Kompetensi Dasar
|
Indikator
|
Pengalaman Belajar
|
Materi/ pokok/
bahasan
|
Alokasi Waktu
|
Sumber/ bahan/ alat
|
penilaian
|
|
1
|
Menjelaskan
pengertian garam dan terang dunia
|
Mengutip
ayat Alkitab Mat. 5:13-16
|
Mengikuti
pelajaran
|
Pengertian
garam dan terang dunia
|
15
menit
|
Garam
dan lampu/ lilin
|
diskusi
|
|
2
|
Menganalisis
perkembangan zaman yang terjadi tahun ini
|
Mendata
ciri-ciri perkembangan zaman baik dalam pergaulan, dan tekhnologi
|
Membawa
Alkitab dan buku bacaan: Etika Kristen (Dr. J. Verkuyl)
|
Perkembangan
zaman pada masa kini.
Keuntungan
dan kerugian mengikuti perkembangan zaman
|
45
menit
|
Laptop,
internet, modem
|
Pastisipasi
aktif dari siswa
|
|
3
|
Mempraktekkan
dalam kehidupan sehari-hari sebagai garam dan terang dunia
|
Menyikapi
perkembangan zaman dengan menjadi
garam dan terang dunia
|
Mewawancarai
temannya mengenai perkembangan zaman
|
Perubahan
yang harus dilakukan pemuda/ pemudi Kristen
|
20
menit
|
Koran,
majalah, buku
|
ujian
|
Langganan:
Postingan (Atom)