perencanaan Pembelajaran PAK
Translate
Selasa, 10 Desember 2013
Prinsip dan Praktek PAK
Pengertian PAK
Istilah PAK berbeda dengan istilah Pendidikan Kristen. Pendidikan Kristen menunjuk pada pengajaran biasa yang diberikan dalam suasana Kristiani. Namun dapat juga berarti sekolah yang dijalankan oleh gereja atau organisasi atau yayasan Kristen. Sedangkan PAK merupakan pendidikan yang berporos pada pribadi Tuhan Yesus Kristus dan Alkitab (firman Allah) sebagai dasar atau acuannya.
Beberapa pandangan tokoh mengenai PAK, yaitu
a. Hieronimus (345-420)
PAK adalah pendidikan yang tujuannya mendidik jiwa sehingga menjadi bait Tuhan (Mat. 5:48).
b. Agustinus (345-430)
PAK adalah pendidikan yang bertujuan mengajar orang supaya melihat Allah dan hidup bahagia. Pelajaran Alkitab difokuskan pada perbuatan Allah.
c. Martin Luther (1483-1548)
PAK adalah pendidikan yang melibatkan warga jemaat untuk belajar teratur dan tertib agar semakin menyadari dosa mereka serta bersukacita dalam firman Yesus Kristus yang memerdekakan.
Alkitab sebagai dasar dan Kristus pusat berita
Amanat Agung (Matius 28:19-20), murid proses PAK (2 Tim. 2:2), memuridkan hasilnya (Ef. 4: 11-13) menjadi murid dewasa.
Dari definisi Werner terdapat tiga aspek utama PAK, yakni:
1. Deskripsi PAK
PAK merupakan proses pengajaran dan pembelajaran berdasarkan Alkitab, berpusatkan Kristus, dan bergantung pada kuasa Roh Kudus. Pembelajarn berarti pembangunan pribadi menuju kedewasaan. Sedangkan pengajaran berarti penyandian dan dorongan bagi pembelajaran yang efektif.
2. Aspek fungsional PAK
PAK berusaha membimbing setiap pribadi ke semua tingkat pertumbuhan melalui pengajaran masa kini ke arah pengenalan dan pengalaman tentang rencana dan kehendak Allah melalui Kristus dalam setiap aspek kehidupan dan untuk memperlengkappi mereka bagi pelayanan yang efektif. Proses PAK ditujukan kepada setiap pribadi seperti pelayanan Kristus (Yoh. 1:43). PAK berfungsi sebagai penyedia, pendorong, dan fasilitator dalam pembimbingan.
3. Aspek Filosofis PAK
4. PAK merupakan proses pembelajaran dan pengajaran yang berpusatkan pada Kristus, sang Guru Agung dan perintah untuk mendewasakan para murid (Kol.2:6-7).
Dasar Teologis
Dasar teologis PAK adalah alasan alkitabiah tentang pentingnya pengajaran PAK yang terdiri dari tugas, proses, dan tujuan PAK.
Tugas PAK yaitu mengajar. Dasar tugas teologis tersebut terdapat dalam Amanat Agung Tuhan Yesus (Mat. 28:19-20). Tiga hal yang harus dilakukan para murid Kristus, yaitu memberitakan Injil, membaptis, dan menagajar. Sasaran menginjil, membaptis, dan mengajar adalah menjadikan mereka sebagai murid Kristus.
Proses PAK yaitu memuridkan. Rasul Paulus memberikan pesannya kepada Timotius (2 Tim. 2:2). Ayat tersebut menekankan bahwa tujuan mengajar adalah agar dapat mengajar kepada orang lain. Ini yang dimaksud dengan pemuridan.
Tujuan PAK yaitu murid dewasa (Ef. 4:11-13).
Subjek PAK
a. Gereja
Gembala sidang gereja local bertanggung jawab mendewasakan jemaat. Gereja merupakan agen utama dalam mengajar PAK. Pengajaran PAK dapat deprogram melalui kebaktian umum, SM, bible study, dan berbagai persekutuan seperti persekutuan kaum muda, bapak, dan ibu.
b. Keluarga
Kepala keluarga bertanggung jwab dalam mengajar PAK, dapat dilakukan melalui kebaktian keluarga atau retreat keluarga. Kepala keluarga harus dapat memimpin keluarganya menjadi keluarga Kristen yang baik dan menjadi teladan dalam hidup dan kehidupannya.
c. Sekolah
Dalam pendidikan sekolah, guru agama bertanggung jawab mengajar Pak di sekolah melalui pelajaran agama, acara perayaan hari besar Kristen dan retreat sekolah.
PENDIDIKAN AGAMA DALAM ALKITAB
Pendidikan Agama dalam PL
Pendidikan agama dalam PL dimulai dari perpindahan Abraham dari daerah sekitar sungai Efrat dan Tigris menuju Kanaan. Allah berjanji akan membuat keturunan Abraham besar (Kej. 12:2-3). Pusat pendidikan agama terletak pada keluarga, terutama ayah yang bertanggung jawab dalam pendidikan agama (Ul. 6:4-9). Pengajaran agama dalam PL berpusat pada Hukum Allah dan Kurban melalui system imamat. Allah telah memberikan sepuluh Hukum Taurat kepada umat Israel (Kel. 20:1-17) dan perintah untuk mengasihiNya (Ul. 6:4-9). Melalui hukum yang diberikan Allah, umat Allah disadarkan bahwa mereka adalah orang berdosa yang memerlukan anugerah dan pengampunan dari Allah Juruslamatnya.
Allah sendiri bertindak sebagai pemrakarsa dan pengajar utama pendidikan agama dalam PL (Hos. 11:1,3,4). Dalam mengajar umatNya, Allah sering menggunakan empat golongan pemimpin orang Israel, yaitu para imam (Bil. 3), para nabi (Yunus, Mikha, dsb), Kaum Bijaksana (Ams. 1-2, 6:1), dan Kaum Penyair (Mazmur). Pengajaran juga dijalankan kepala keluarga, yaitu suami kepada istri, atau orang tua kepada anak-anak. Anak laki-laki Yahudi juga mendapatkan pendidikan formal dari sekolah Yahudi, sementara anak perempuan mendapat pengajaran dari ayah mereka.
Metode pengajaran yang digunakan adalah menghapal (Ul. 6:4-9, Ams. 22:6, Maz. 119:11,105), bercerita kepada kaum muda tentang peristiwa bermakna (Yos. 4:6-7; Kel. 12:24-27). Sekolah formal juga memakai metode hafalan.
Pendidikan Agama dalam PB
Tema pokok pengajaran agama dalam PL dan PB adalah karya penyelamatan manusia oleh Allah. Pusat pengajarannya adalah Kristus. Yesus Kristus layak disebut Guru Agung karena pengajaranNya disertai dengan kuasa mujizat. Meskipun ajarannya menekankan kasih merupakan ajaran yang tiada bandingnya, inti pengajaranNya berpusatkan diriNya sendiri (Yoh. 14:6). Metode pengajaran Yesus Kristus, yaitu: memenangkan perhatian, menggunakan pertanyaan-pertanyaan, menggunakan ilustrasi dan cerita, menggunakan ceramah atau kotbah, menggunakan benda atau objek, menggunakan model.
Pengajaran para Rasul
Pengajaran para rasul dimulai dari peristiwa pentakosta, yaitu tampillnya Petrus berkotbah dan 3000 jiwa bertobat. PB menekankan dengan jelas tentang tiga hal utama, yaitu panggilan iman, penjelasan tentang iman, dan pertumbuhan moralitas sebagai konsekuensi dari hidup dalam iman.
Ada 7 pokok penting yang menjelaskan arti dan pentingnya mengajar, yaitu:
1. Menjelaskan firman yang sudah diwahyukan (2 Tim. 2:14; 3:16-17).
2. Menguatkan iman (1 Tim. 4:6,11,16; 6:3-5).
3. Membentuk keharmonisan rumah tangga (1 Tim. 6:1-2).
4. Merupakan syarat mutlak bagi pendeta dan pemimpin rohani (1 Tim. 3:2;2 Tim. 2:24).
5. Mendorong seseorang untuk membaca, menghayati dan memberitakan firman Tuhan (1 Tim. 4:13; 2 Tim. 4:2).
6. Menjelaskan pertumbuhan iman (2 Tim. 2:2)
7. Memuridkan (Mat. 28:19-20; 2 Tim. 2:2).
PAK mempunyai dua tugas utama, yaitu memperlengkapi orang-orang kudus supaya menjangkau jiwa-jiwa baru bagi Kristus dan bertumbuh dalam iman sehingga mempunyai kedewasaan penuh dan layak menyambut kedatangan Kristus.
Prinsip-prinsip Alkitab tentang Pengajaran dan Pembelajaran
Edward dan Frances Simpson mengemukakan 10 hukum pengajran dan pembelajaran.
1. Kebergantungan pada karya Roh Kudus
Para pengajar dan pelajar PAK harus meminta penerangan dari Roh Kudus. Roh Kudus adalah pengajar yang sesungguhnya (Yoh. 14:26), disebut juga Roh Kebenaran (Yoh. 16:13). Seorang pengajar dikatakan efektif dalam pengajarannya jika ia memiliki dua factor utama, yaitu kebergantungan pada kuasa Roh Kudus, dan kesucian hidup yang menjadi keteladanan dalam perbuatan.
2. Mengetahui kebenaran
Kebenaran tertinggi menunjukkan bahwa seseorang akan dibenarkan Allah kalau ia menerima Yesus Kristus dalam pribadinya. Pelajar dan pengajar PAK harus mengetahui kebenaran itu.
3. Menerapkan kebenaran dalam kehidupan
Kebenaran tidak ditentukan dengan pintar atau tidaknya pengajar, tapi apakah pengajar sudah menerapkan kebenaran dalam dalam hidupnya.
4. Hubungan dalam kasih
Seorang pengajar PAK haruslah seorang yang pernah merasakan jamahan Kristus yang berpuncak pada pengorbananNya di kayu salib, sehingga pengajar dapat mengasihi murid-muridNya seperti yang telah dialaminya (Yoh. 13:35).
5. Metode yang digunakan pengajar
Murid memerlukan guru yang dapat membangkitkan perhatian dan minat. Seseorang dapat belajar dengan baik kalau melalui pengalaman, pekerjaan, dan partisipasi. Setiap metode yang digunakan pengajar dapat membangkitkan perhatian para murid untuk mendengar, melihat, mengatakan, dan mengerjakan apa yang diajarkan.
6. Komunikasi yang jelas
a. Hindari kata teknis yang sulit jika ada kata yang mudah.
b. Perjelas kata sederhana sehingga menghindari kesalahpahaman.
c. Tenangkan pikiran supaya pesan dapat diterima.
d. Gunakan pendekatan dengan panca indera jika ingin memperjelas ajaran.
e. Pertanyaan dapat menjadi alat efektif jika pengajar ingin mendapatkan pengertian lebih dalam.
f. Pertanyaan diperlukan untuk membangkitkan ide dan membantu para murid menerapkan pelajaran dalam hidupnya.
g. Utamakan untuk memperoleh umpan balik dari para murid.
7. Pola peningkatan
Pola peningkatan adalah prinsip menghubungkan gagasan baru dengan gagasan lama atau sebelumnya. Pengajar harus mengganti pelajaran yang sudah diberikan ke pelajaran yang belum diberikan dengan mudah, sederhana, dan wajar. Berikan pelajaran secara bertahap.
8. Sukacita menemukan
Seorang pengajar harus mendorong muridnya untuk menemukan sendiri, jangan hanya sekedar mendengar. Seorang pengajar harus mendatangkan respon emosional dari para murid sehingga murid mengetahui apa yang baik dan yang jahat untuk tidak dilakukan.
9. Respon kemauan
Seorang guru harus memberi kesempatan yang luas untuk merespon kemauan. Pada saat guru menutup pelajaran, memberi saat teduh kepada murid untuk merespons secara emosional dan intelektual semua kebenaran yang telah diterimanya. Pada saat berdoa, murid akan merespons kebenaran firman Tuhan yang terus disuarakan Roh Kudus.
10. Hidup sebagai pelaku Firman
Guru harus mengajarkan supaya murid-muridnya menjadi pelaku Firman (Yak. 1:22; 1:23-24).
PAK sumber dan dasarnya adalah Alkitab. Alkitab harus diyakini sebagai Firman Allah tanpa salah karena diwahyukan Roh Kudus. Para pengajar dan pelajar PAK memerlukan penerangan Roh Kudus. Pusatnya adalah Kristus.
Peran Roh Kudus dalam proses Pengajaran dan Pembelajaran PAK
Roh Kudus dapat langsung mengajar kepada murid dan secara tidak langsung melalui para pengajar PAK. Peran pegajar menjadi saluran Roh Kudus untuk menyampaikan kebenaran kepada pelajar. Ada tiga konsep peran Roh Kudus dalam pengajaran PAK, yaitu:
a. Konsep kerjasama pribadi
Roh Kudus adalah pribadi ilahi yang memungkinkan guru dan murid berkomunikasi dan berinteraksi dengan kebenaran Allah untuk bertumbuh secara pribadi dan bersama. Roh Kudus mengajar melalui manusia, khususnya para pengajar. Sebagai saluran Ilahi, para pengajar mengajarkan Firman Allah.
b. Konsep pembaharuan diri
Meskipun manusia sudah jatuh ke dalam dosa, Roh Kudus telah memulihkan kesucian dan kebenaran sesuai dengan citra Kristus (Ef. 4:24) karena lahir kembali sama seperti Kristus. Pengajar dan pelajar PAK harus mengakui berharganya nilai seorang pribadi karena sesuai dengan citra Allah. Salah satu alasan pewahyuan Roh Kudus adalah mendewasakan setiap orang percaya (2 Tim. 3:16-17). Itulah sebabnya Ia mengubah kita dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan yang lebih tinggi lagi (2 Kor. 3:17-18).
c. Konsep komunikasi antarpribadi
Gereja adalah tubuh Kristus dan Kristus adalah kepalanya (Ef. 1:20-23). Melalui Roh Kudus, Kristus telah memberikan karunia-karunia rohani untuk saling melayani bagi pertumbuhan Kristus (Ef. 4:7-11; 1 Kor. 12:4-7). Dalam proses pengajaran dan pembelajaran PAK, Roh Kudus mengolah, mendewasakan kehidupan rohani seseorang sebelum, selama dan sesudah proses PAK secara formal.
Kurikulum PAK
Ada beberapa pengertian Kurikulum menurut beberapa tokoh,
a. Saylor, Alexander, dan Lewis (1981) mengemukakan empat kategori kurikulum,
1. Rencana mata pelajaran atau bahan pelajaran
2. Rencana pengalaman belajar
3. Rencana tujuan pendidikan yang hendak dicapai
4. Rencana kesempatan belajar
b. Kamus Webster’s New International Dictionary (1953), kurikulum terdiri dari sejumlah pelajaran yang ditetapkan agar ipelajari siswa di sekolah atau perguruan tinggi, untuk memperoleh suatu ijazah atau gelar.
c. Stratemeyer, Forkner, dan McKim (1974) merumuskan kurikulum sebagai a) mata pelajaran dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelas; b) pengalaman belajar, baik yang diperoleh di kelas dan luar kelas yang disponsori sekolah; c) seluruh pengalaman hidup siswa
Komponen Kurikulum
Tujuan kurikulum adalah mencapai proses belajar dan mengajar. Sasaran yang jelas merupakan hasil akhir yang akan dicapai. Tujuan yang dicapai meliputi tujuan jangka panjang, menengah, dan pendek. Tujuan jangka panjang merupakan tujuan akhir yang hendak dicapai. Untuk mencapainya harus melalui tujuan jangka pendek (tujuan yang segera akan dicapai) dan tujuan menengah (tujuan antara). Komponen isi kurikulum adalah mata pelajaran yang harus dipelajarai para pelajar PAK. Isi kurikulu yang telah dibuat harus diorganisasikan secara terpadu yang mengarah pada tujuan. Dalam penyampaian kurikulum perlu diperhatikan tiga komponen utama dalam pembelajaran, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. metode belajar sangat penting diperhatikan. Metode merupakan alat yang memudahkan semua materi pembelajaran sehingga diterima para pelajar PAK. Evaluasi kurikulum seharusnya dilakukan terus menerus dengan tujuan menilai keberhasilan tujuan pembelajaran. Ada dua evaluasi kurikulum, yaitu evaluasi terhadap hasil kurikulum dan evaluasi terhadap proses kurikulum.
Alkitab sumber pengajaran dalam PAK
Tindakan Allah untuk mengkomunikasikan diriNya kepada manusia melalui Alkitab. Alkitab merupakan salah satu bentuk penyataan Allah yang disebut penyataan khusus atau spesifik (1 Yoh. 5:9-12). Penyataan khusus yang terbesar dari Allah adalah penyataan melalui Yesus Kristus (Yoh. 1:18), dan penyataan umum yaitu melalui alam semesta ciptaanNya (Rm. 1:20). Alkitab merupakan penyataan Allah melalui pengilhaman Roh Kudus kepada para penulis Alkitab. Karena itu, para pembaca masa kini dapat memahami dengan benar isi Alkitab diperlukan penerangan oleh Roh Kudus.
PL terdiri dari 39 kitab, dan PB terdiri dari 27 kitab. Alkitab berisi penyataan Allah. Sesungguhnya Alkitab berpusatkan pada puncak penyataan Allah kepada manusia dalam diri Yesus Kristus (Luk. 24:25-27).
Penyampaian berita Alkitab kepada orang lain merupakan proses menemukan kebenaran Firman Tuhan secara induktif setelah diterapkan kepada diri sendiri. Cara menyampaiakannya harus sesuai dengan tingkat usia dan memerhatikan faktor sosial orang yang akan-walaupun isi beritanya sama.
Doa dalam kehidupan orang Kristen dan kehidupan Gereja
Doa merupakan komunikasi manusia-Allah. Doa diilustrasikan sebagai nafas kehidupan orang Kristen. Doa mencakup permohonan kepada Allah, termasuk pengakuan dosa, puji-ujian dan penyembahan, ucapan syukur. Melalui doa, orang Kristen mendapatkan kekuatan untuk bertahan dan mengalahkan tipu daya Iblis yang akan menjatuhkan iman orang Kristen. Macam-macam ekspresi doa: bertelut (Ef. 3:14), bersujud (Kel. 32:11), menengadah (Mzm. 5:4), mengangkat hati (Mzm. 25:1), mencurahkan isi hati (Mzm. 62:9), berseru ke langit (2 Taw. 32:20). Yang memengaruhi doa adalah kerendahatian dan keyakinan pada Kristus. Terbentuknya gereja di Yerusalem dimulai dari doa para rasul. Kunci bertumbuh adalah bersekutu, bersehati dan berdoa bersama-sama. Paulus menjadi teladan yang tepat dalam berdoa. Ia seorang yang giat menginjil melalui kekuatan, pikiran, keribadian, kebudayaan, dan doanya. Sebagai pengkotbah, Paulus bergantung dari doa jemaat.
Pokok-pokok tentang belajar
Dalam pembelajaran terdapat tiga pendekatan, yaitu: Roh Kudus satu-satunya pengajar, guru satu-satunya pengajar, dan Roh Kudus dan guru sebagai pengajar. Pendekatan yang dipakai adalah guru dan Roh Kudus sebagai pengajar melalui guru, Roh Kudus mengajar secara langsung dan tidak langsung. Pencerahan dari Roh Kudus merupakan salah satu cara Tuhan untuk terlibat dalam proses belajar sebagaimana dimaksud dalam kitab suci.
Kendala-kendala dalam belajar, yaitu:
1. Faktor-faktor dalam belajar, yaitu : tubuh fisik, tekanan psikologis (stres, trauma, lupa, menghindari perubahan, kemalasan dan prioritas yang salah, dosa khusus, tendensi dosa masa lalu, apatis terhadap pertumbuhan).
2. Kendala dan hubungan, yaitu: pergaulan.
3. Pandangan dunia dan nilai budaya, yaitu: pandangan dunia selalu bertentangan dengan kebijaksanaan surga (Yak. 3:13-18). Sehingga memperlambat pikiran siswa dalam memahami kekristenan dan menjadkan mereka kurang reeptif, bahkan skeptis untuk menerima kebenaran Alkitab.
4. Menghadapi kekuatan Iblis dan setan, yaitu setan berusaha menjauhkan siswa untuk menjadi orang percaya. Sebagai guru, harus membantu siswa supaya bertahan dan melawan kekuatan iblis.
Bagi orang Kristen, belajar merupakan proses perubahan atau pertumbuhan yang tidak pernah berakhir. Fokus utama dalam belajar adalah mengenal kasih Allah. Hubungan kita dengan Allah dipengaruhi tingkat kpercayaan kita kepadaNya.
Metode Mengajar
Metode merupakan alat yang digunakan pengajar untuk mengkomunikasikan pengetahuan, ide atau kebenaran. Dari pendekatan PAK, metode merupakan sarana yang dipakai untuk membawa murid mengenal Tuhan Yesus dan firmanNya. Sebuah metode merupakan aktivitas sederhana untuk mengkomunikasikan informasi dan artinya, menuntuk pengetahuan yang dalam, atau mendorong untuk memberi respon. Dalam penggunaan metode, pengajar seharusnya:
1. Guru harus menyiapkan bahan pelajarann sebelum menentukan metode mengajar
2. Guru akan memilih metode yang sesuai.
3. Guru harusmenentukan metode yang bervariasi
4. Guru harusmenggunakan metode yang membuka komunikasi.
5. Guru harus mengatur tempat sebagai fasilitas yang akan digunakan dalam sebuah metode.
Gangel menggunakan metode mengajar daam empat kategori, yaitu:
1. Kelompok kerja, kelas dibagi dalam kelompok yang terdiri dari beberapa orang atau setidaknya dibagi seadil mungkin. Mereka akan berdiskusi khusus dan waktu yang terbatas. Garis besarnya adalah
a) mempersiapkan topik khusus yang sama atau berbeda untuk setiap kelompok.
b) Mempersiapkan kertas kerja dan tempat yang cukup untuk membuat ringkasan.
c) Memilih seorang pemimpin untuk setiap kelompok atau menjelaskan bagaimana suatu kelompok memilih pemimpin.
d) Guru mengunjungi setiap kelompok untuk mendorong dan membantu.
e) Mereka masuk dalam kelompok besar atau berkumpul kembali.
Secara bersama-sama, setiap kelompok berdiskusi untuk mencari jalan keluar, sedangkan guru meringkas. Metode kelompok mendorong murid untuk berinteraksi dalam kelompok kecil, menuangkan ide-ide atau pengetahuan baru, menerapkan kebenaran firman Tuhan dan membuat murid tertarik dan berpartisipasi. Laporan yang telah dibuat dapat dipakai utuk masa yang akan datang.
2. Guru-murid: Tanya-Jawab
Pertanyaan membuat interaksi dalam kelas menjadi hidup karena adanya timbal balik komunikai dari guru dan siswa.
3. Murid-guru: Tulisan kreatif
Penulisan kreatif merupakan proyek khusus supaya murid-murid dapat menulis dengan kata-kata sendiri, baik yang mereka pelajari dalam Alkitab maupun masalah yang mereka hadapi. Murid-murid akan lebih menguasai ketika mereka menuang gagasan, keyakinan, perasaan, dan ide-ide mereka. Penulisan kreatif bisa berupa puisi, naskah radio, cerita, permainan.
4. Guru kepada murid: Kuliah
Metode kuliah berpusat pada perkataan guru. Metode tradisional ini sangat bermanfaat ketika guru menyampaikan metode lain seperti diskusi, tanya jawab, dan penggunaan audio-visual.
PAK untuk Anak
PAK dimulai dari anak-anak. Lima kelompok usia anak adalah 0-1, 2-3, 4-5, 6-8, 9-11. Sasaran utamanya adalah anak mengenal dan menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadinya. Masa anak berbeda dengan masa dewasa. Penelitian menunjukkan bahwa anak telah dipengaruhi lingkungannya sejak dalam kandungan seperti gizi, obat, sakit, bahkan emosi ibu dapat mempengaruhi anak. Secara emosi, anak belajar mengendalikannya ketika berhubungan dengan orang lain dalam konteks sosial. Secara spiritual, anak dapat menangkap dan memakai konsep dan prinsip Alkitab dalam kehidupan mereka jika diajarkan sesuai dengan tingkat intelektualnya dan dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari. Secara fisik, anak dapat bertumbuh dengan cepat bila menerima makanan bergizi dan kesehatannya dijaga, secara mental, anak berkembang secara bertahap dari lahir sampai berusia 11 tahun. Secara intelektual, anak sulit memahami pemikiran abstrak dan simbol-simbol.
Jean Piaget (1976) mengemukakan empat tahap perkembangan otak anak, yaitu:
1. Periode sensori motorik (panca indera) dimulai dari lahir- 2 tahun bertumbuh cepat.
2. Periode Preoperational Thought dimulai usia 2-7 tahun (mengklasifikasikan satu atribut pada suatu waktu tertentu). Ia dapat menilai lebih dari yang kelihatan daripada proses yang berasal dari operasi mentalnya.
3. Periode Concrete Operations dimulai 7-11 tahun (dapat mendefinisikan, membandingkan sesuatu yang berlawanan melalui logika). Namun, sifatnya masih nyata.
4. Periode Formal Operation dimulai usia 11 atau 12 tahun (dapat berpiir dan menangkap hal-hal yang abstrak).
PAK untuk Remaja
Remaja (usia 12-17 tahun), mereka hidup transisi atau peralihan antara masa kanak-kanak dan dewasa. Mereka disebut remaja karena memiliki budaya dan ciri tersendiri. Respons kita terhadap gaya hidup mereka adalah membangun filosofi Alkitabiah dan konstruksif untuk melayani, membuka diri untuk menerima gaya hidup mereka dengan mendorong sisi positif yang mereka miliki, kenali gaya hidup mereka yang berbeda karena tempat dan tiak dapat disatukan dalam satu bentuk. Yang dilakukan orangtua dan pengajar adalah menerima keadaan fisiknya, melayani mereka sesuai dengan minat mereka, menyediakan informasi untuk menolong mereka mengembangkan sikap sosial, menilai sesuai dengan tingkatan umur mereka, dan menunjukkan kepada mereka tanggung jawab rohani.
PAK untuk Orang Dewasa
Kedewasaan adalah proses kehidupan yang panjang dan tingkatan hidup yang khas yang didalamnya terdapat cerita masa lalu dan segala akibatnya. Ciri kedewasaan adalah serius dengan kegiatan yang dikerjakan, pribadinya semakin matang dan mengalami perpindahan dari masa remaja menuju dewasa muda. Orang dewasa dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok dewasa muda (18-34 tahun), kelompok menengah (35-60 tahun), kelompok dewasa lanjut usia (61 tahun ke atas). PAK orang dewasa harus dituangkan dalam program gereja lokal. Mereka datang dengan latar belakang yang berbeda untuk belajar secara formal. Mereka yang belajar Alkitab belajar dari pengalaman orang dewasa. Orang dewasa datang dari latar belakang budaya, politik, dan sosial yang berbeda. Guru dewasa harus memerhatikan situasi belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Orang dewasa datang dalam Alkitab dengan pengalaman pribadi. Pengalaman ini sangat bernilai bagi PAK sehinggamenjadi lebih berarti dalam menerapkan kebenaran Alkitab. Orang dewasa lebih mampu belajar sendiri dibandingkan anak-anak dan remaja. Mereka mudah menerima, menyimpulkan da menerapkan dengan baik tugas-tugas dari pelajarann Alkitab dengan sedikit bimbingan dari guru.
Tujuan PAK untuk orang dewasa, yaitu
1. menjangkau orang dewasa agar bisa hidup dalam kedewasaan karena pendidikan formal yang mereka terima di sekolah pada dasarnya sudah diselesaikan, dicapai, dan direalisasikan. Kemudian mereka mampu meningkatkan kemampuan, menetapkan, dan menjangkau tujuan hidup mereka.
2. Belajar Alkitab adalah ketekunan karena kekayaan dan kedalaman firman Tuhan sungguh tak terkira. Mereka harus mempunyai kemauan untuk terus menyelidiki dan menemukan firman Tuhan.
Untuk mencapai sasaran Pak bagi orang deawasa, gereja perlu menyediakan struktur sistematis, yaitu melalui SM kelas dewasa, dan diarahkan ibadah rumah. Tapi yang paling penting adalah penerimaan dan keramahan terhadap mereka sehingga melalui itu mereka bisa aktif dalam kegiatan gereja, dan melibatkan mereka dalam mencapai visi gereja lokal dan melakukan pelatihan secara intensif untuk menyebarkan keselamatan Kristus.
PAK dalam Gereja
Pergumulan utama pelayanan gereja lokal pada masa kini adalah peran dan pentingnya keluarga dalam pengajaran. Alkitab mendeskripsikan fungsi pengajaran sebagai bagian dalam Tubuh Kristus (Jemaat) daripada keluarga, bahkan menyatakan dengan jelas petunjuk pelaksanaannya. Tugas Imam dalam PL adalah mengajar Taurat, dan dalam PB dimulai dari pengakuan Yesus sebagai Guru Amanat Agung yang mengajar dari satu orang sampai orang banyak berdesak-desakan. Gereja lokal dalam melaksanakan Amanat Agung harus menyusun program, merumuskan tujuan dan melaksanakannya. Seluruh program gereja harus membawa jiwa kepada Yesus sebagai Juruselamat Pribadinya, menumbuhkan iman dan melengkapi jemaat untuk melayani secara efektif. Seluruh pelayanan gereja lokal, baik penggembalaan, pengajaran, musik, penginjilan, dan pemberitaan firman harus difokuskan pada menginjil, mengajar, dan memperlengkapi. Dalam mengembangkan program, gereja lokal harus melibatkan dan melayani pribadi secara utuh. Setiap sisi intelektual, sikap, perasaan, kehendak, dan kapasitas yang berhubungan dengan Allah dan sesama harus mencakup lima elemen utama, yaitu: pengajaran, penyembahan (ibadah), persekutuan, pelayanan, dan penginjilan. Ada tiga waktu yang berfungsi untuk pelayanan PAK, yaitu hari minggu, hari kerja, dan musiman.
PAK dalam Keluarga
Lembaga yang terpenting dan paling kecil adalah keluarga. Keluarga merupakan lembaga yang fenomenal dan universal. Dr. Kenneth Chafin memberi gambaran mengenai keluarga, yaitu keluarga merupakan tempat bertumbuh, pusat pengembangan semua aktivitas, tempat aman untuk berteduh saat badai hidup, tempat mentransfer nilai-nilai, dan tempat munculnya permasalahan dan penyelesaiannya. Alkitab menyatakan bahwa keluarga terbentuk apabila seorang meninggalkan orangtuanya dan bersatu dengan istrinya (Mat. 19:5-6). Dasar pernikahan yang kuat adalah firman Allah. Pernikahan merupakan rencana asli Allah kepada manusia karena Dia menjadikan laki-laki dan perempuan (Kej. 1:27, Mat. 19:4). Dengan dasar firman Allah, suami istri membentuk keluarga melalui pernikahan. Hubungan suami istri dengan Tuhan dapat digambarkan dalam jalinan kasih segitiga suci “Aku mengasihi dia, dia mengasihi aku, aku dan dia mengasihi Dia.
Ayah sebagai penanggung jawab dan kepala keluarga bertanggung jawab dalam PAK keluarga. Ayah secara langsung melakukan pendidikan kepada anak, ibu berperan aktif membantu ayah dalam mendidik anak. Semua dasar iman orang dewasa telah diletakkan pada masa kanak-kanak. Dua hal yang penting dilakukan di keluarga, yaitu kebaktian keluarga dan saat teduh. Kebaktian keluarga dilaksanakan secara bersama dengan anggota keluarga, sedangkan saat teduh merupakan waktu yang disisihkan setiap hari oleh setiap pribadi.
Kesimpulan
Begitu pentingnya pendidikan Agama Kristen dalam kehidupan manusia. PAK perlu diajarkan kepada semua orang, tanpa memandang umur seseorang supaya mereka dapat mengenal Kristus dalam hidupnya. Inilah yang menjadi tugas orang-orang percaya. Yesus adalah guru Agung. Hanya Dia yang menjadi pusat pengajaran PAK. PAK sumber dan dasarnya adalah Alkitab. Alkitab harus diyakini sebagai Firman Allah tanpa salah karena diwahyukan Roh Kudus. Para pengajar dan pelajar PAK memerlukan penerangan Roh Kudus.
Buku : Prinsip dan Praktek PAK
Kamis, 05 Desember 2013
TEORI PERKEMBANGAN ANAK
I. Penggolongan Teori Perkembangan
1. Jonas Langer salah seorang murid Werner yang pandai mengemukakan bahwa teori-teori mengenai perkembangan dan psikologi perkembangan, dikelompokkan dalam dua macam teori, yakni:
a. Cermin mekanistik
b. Lampu organik
Langer memberikan landasan ketiga kelompok teori perkembangan pada hubungan-hubungan antara konsep perubahan dan sistem-sistem yang ada pada seseorang. antara konsep perubahan dan sistem-sistem, ada hubungan korelatif yaitu pandangannya pada model manusia yang aktif dan pasif.
a. Cermin mekanistik
Teori ini memandang manusia sebagai organisme yang pasif. Langer mengemukakan tesisnya mengenai teori ini bahwa manusia tumbuh menjadi sesuatu seperti apa yang dibuat oleh lingkungannya agar ia menjadi sesuatu. Ketika anak dilahirkan, isi kejiwaannya kosong seperti cermin yang memantulkan cahaya ke lingkungannya. Tesis ini dilandasakan pada dua pandangan filosofis bahwa:
1. Isi kejiwaan seseorang dapat dianalisa menjadi bagian-bagian yang terkecil, yakni unsur-unsur kejiwaan (elemen-elemen).
2. Tekanan-tekanan dari lingkungan mempengaruhi penginderaan anak dan meninggalkan impresi dasar.
Para ahli yang tergolong pada teori cermin mekanistik dewasa ini menitikberatkan pada reaksi-reaksi tingkah laku dan bahwa terhadap anak dapat dilakukan observasi-observasi bagaimana si anak bereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang timbul di lingkungannya. Teori ini ingin menjawab pertayaan mengapa anak bertingkah laku, misalnya karena adanya dorongan dan kebutuhan. Disamping itu ingin diketahui, faktor apa yang menyebabkan timbulnya pengulangan suatu reaksi atau sesuatu tingkah laku, misalnya karena ada hukuman atau hadiah.
Teori cermin mekanistik mengemukakan pentingnya lingkungan sebagai sumber yang memberikan rangsangan pada anak, anank diibaratkan cermin yang memantukan cahaya. Konsep pertumbuhan pada teori ini yang menjadi sumber gejala-gejala psikis adalah lingkungan, karena itu disebut environmentalistik.
Obyek-obyek yag ada di lingkungan anak melalui bbermacam-macam cara dapat ditentukan dengan hukum-hukum fisikal adalah sumber rangsangan terhadap anak. Karena terikat dengan hukum-hukum fisik, maka disebut fisikalisasi. Pavlov mengemukakan hubungan antara tubuh dan aspek psikis dapat diterangkan dari sudut fisik, misalnya refleks-refleks yaitu gerakan otomatis terhadap sesuatu rangsangan. Karena sifatnya fisi, maka bisa dijadikan obyek-obyek penelitian dengan dasar-dasar eksakta. Langer mengemukakan bahwa kelompok kedua yang tergolong teori cermin mekanistik ialah mereka yang mengatakan bahwa pross persepsi dan sosial belajar terjadi melalui imitasi. Pada sosial belajar dikemuakan bahwa konsepsi-konsepsi anak adalah dasar tingkah laku sosial dan persepsi-persepsi ini terjadi melalui imitasi terhadap model-model yang ada dalam lingkungan sosialnya. Persepsi belajar menitikberatkan peranan respon-respon motorik dalam usaha memperoleh model-model dari obyek-obyek di luar dirinya. langer mengemukakan kelompok lain yang masih tergolong teori cermin mekanistik dan pendapatnya mengenai adanya respon-repon tertentu yang ada pada anak, tetapi yang tidak dapat dilihat dari luar, ini diistilahkan dengan mediasi. Di dalam diri seseorang terjadi proses yang bisa asosiatif dan yang sederhana, tetapi bisa lebih kompleks untuk dibentuk menjadi rangkaian-rangkaian tertentu. Rangkaian itu pada akhirnya memang bisa ditunjukkan dalam tingkah laku yag terlihat atau dapat diamati.
b. Teori Lampu Organik
Teori ini memandang manusia sebagai model makhluk yang aktif. Langer mengemukakan tesisnya dengan istilah otogenetiktesis yang memandang manusia berkembang menjadi apa yang dibentuknya sendiri dengan aktivitas-aktivitasnya sendiri. Para ahli yang tergolong kelompok ini menaruh perhatian terutama terhadap proses-proses yang mendasari suatu tingkah laku melalui urutan-urutan pada tahap-tahap perkembangan. Tahap-tahap perkembangan ini terjadi secara beruntun dan tiap tahap adalah penting untuk terjadinya tahap-tahap perkembangan berikutnya.
Teori lampu organik menitikberatkan pada proses-proses otogenetik perkembangan. Prinsip ini menunjukkan bahwa perkembangan terjadi dari sesuatu yag secara relatif tidak ada keseimbangan ke sesuatu yang menimbulkan keadaan seimbang dengan lingkungannya. Titik tolak teori ini adalah konsepnya tentang aksi-aksi spontan yang diperlihatkan melalui tingkh laku, dimana tentu ada faktor pengalaman dan perkembangan yang berperan bersama-sama secara dengan sendirinya. Ditinjau dari sudut perkembangannya, anak telah memperoleh alat-alat dan jari-jarinya yang lengkap yang memungkinkannya memperkembangkan dan mengaktualisasikan dirinya. karena itu, pada teori lampu organik ini pengetahuan mengenai kekuatan dan kelebihan genetik dan transformasi-transformasi perkembangan dititikberatkan.
D. P. Ausubel dan E. V. Sullivan menunjukkan hubungan-hubungan interaksional antara konsep dan dasar dalam perkembangan secara struktural. Pengelompokannya yaitu:
a. kelompok yang melakukan pendekatan Preformasionis.
Pendekatan preformasionis menganggap semua kemampuan dasar pada ciri-ciri kepribadian yang sudah ada, terbentuk ketika dilahirkan. Ketika anak dilahirkan anak sudah mempunyai struktur tertentu dengan jadwal waktu yang sudah terencana untuk berkembang, pemikiran ini sejalan dengan konsep teologis dilihat dari sudut Agama Kristen yang mengatakan bahwa manusia ketika dilahirkan sudah berdosa. Dosa ini merupakan dosa warisan yang diperbuat oleh manusia pertama yakni Adam dan Hawa. Dengan titik tolak pandangan teologis, peranan pendidikan menjadi agak berkurang dan timbul apa yang kemudian dikenal dengan istilah pesimisme pendidikan.
b. kelompok yang melakukan pendekatan predeterministik.
Pendekatan predeterministik berbeda dengan pendekatan preformasionis. Pada pendekatan predeterministik, hasil yang dicapai pada suatu masa perkembangan tidak ditentukan secara mutlak oleh apa yang memang sudah ada, melainkan merupakan hasil proses diferensiasi yang kualitatif dan perkembangan-perkembangan evolusioner pada suatu bentuk.
J. J. Rousseau (1712-1778) dianggap sebagai tokoh yang pertama mengemukakan pendekatan predeterministik ini. Rousseau mengemukakan bahwa semua perembangan terdiri dari serangkaian tahap-tahap yang mengatur sendiri dan yang dipindahkan dari yang satu kepada yang lain melalui pola-pola yang sudah tertentu. Menurut Rousseau, peranan lingkungan hanya mencegah bilamana ada gangguan terhadap proses-proses pengaturan sendiri dan kematangan-kematangan yang terjadi secara spontan. Bertentangan dengan paham manusia pada waktu kelahirannya pun makhluk yang berdosa, Rousseau mengemukakan sebaliknya, yaitu bahwa manusia ketika dilahirkan pada dasarnya baik dan masyarakatlah yang menjadi sumber timbulnya sifat buruk pada manusia. Pendapat Rousseau mempunyai pengaruh yang besar dalam dunia pendidikan, dimana peranan dan fungsi anak sangat diperhatikan.
c. Kelompok Tabula Rasa
Pengertian tabula rasa sebenarnya hanya mencakup sebagian kecil dari seluruh disposisi dalam perkembangan, karena hanya melukiskan keadaan anak pada waktu lahir. J. Locke menggambarkan bahwa pentingnya lingkungan hidup dalam mempengaruhi bahkan mencipta arah dan perkembangan-perkembangannya. Peranan faktor keturunan dan faktor yang timbul ari dalam diri anak menjadi kecil sekali dalam mempengaruhi tingkah laku yang timbul. Karena semua tingkah laku adalah hasil mempelajari sesuatu atau hasil proses belajar, maka dengan mengarahkan proses belajar tertentu, tingkah laku yang tidak baik, yang tidak diterima lingkungannya dapat diganti dengan tingkah laku yang dikehendaki. Suatu latar belakang sosial atau kebudayaan tertentu akan memberikan pola tertentu pada tingkah laku orang-orang yang ada didalamnya.
R. M. Lerner (1976) mengemukakan pendekatan untuk memberi gambaran mengenai psikologi perkembangan, yakni:
a. teori penahapan
Teori penahapan disebut juga teori klasik. Perkembangan terbagi melalui tahapan-tahapan dari yang satu kepada yang lain secara bertingkat. Antara tahap yang satu dengan tahap yang lain terdapat masa perkembangan dengan cirinya masing-masing. Sifat-sifat teori penahapan ini ialah:
1. Mengikuti konsep mengenai adanya kontinuitas-diskontinuitas, dan kuantitatif-kualitatif serta epigenetis dalam perkembangan.
2. Mengikuti pandangan interaksionisme antara faktor konstitusi dan faktor lingkungan, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan dalam tekanan.
3. Mengakui bahwa ada masa-masa kritis dalam perkembangan, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan pendapat daam mengemukakan seberapa jauh kritisnya suatu masa kritis, serta pada tahapan-tahapan perkembangan mana dan utuk ciri-ciri kepribadian apa terdapat masa-masa kritis itu.
b. Pendekatan diferensial
Pendekatan diferensial dipergunakan untuk tujuan-tujuan empiris dan berusaha menerangkan adanya perbedaan-perbedaan tingkah laku dalam perkembangan pada kelompok atau subkelompok. Dasar untuk mengelompokkan ini ada dua macam atribut yaitu: atribut status, yang mengelompokkan orang-orang atas dasar, umur, jenis kelamin, latar belakang keturunan, agama, sedangkan atribut yang kedua ialah atribut tingkah laku yaitu dimensi tingkah laku yang bersifat dua pola kontunuitas misalnya kebebasan-keterikatan.
c. Pendekatan ipsatif
Pendekatan ipsatif mempunyai orientasi yang terutama idiografis, yakni ingin mengetahui hukum-hukum yang ada atau yang bisa berlaku pada satu individu yang sedang berkembang. Pada pendekatan ipsatif ada dua komponen yaitu: atribut repertoire adalah atribut yang ada pada seorang pada perbedaan-perbedaan tahap perkembangan yang bersifat vertikal. Sedangkan komponen yang kedua ialah atribut saling berhubungan yaitu atribut yang ada pada seseorang dengan tingkatan-tingkatan fungsi yang berlainan karena berbeda tahapan perkembangannya. Pendekatan ipsatif yang menitikberatkan sifat-sifat yang berbeda secara perorangan, berusaha mengetahui dasar-dasar atau pola-pola yang menyebabkan adanya perubahan ciri-ciri tingkah laku atau juga ciri-ciri yang menetap dalam perkembangan tingkah laku.
Tanggapan
Tanggapan Positif
Buku ini bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mendalami perkembangan anak. Buku ini menguraikan para tokoh psikologi secara praktis da sederhana yang dapat dijadikan pedoman bagi orang tua. Buku ini juga sangat membantu bagi mahasiswa jurusan psikologi atau jurusan lain yang terkait dengan dunia perkembangan anak karena di dalamnya terdapat paparan mengenai dasar dan konsep yang berhubungan dengan perkembangan anak serta uraian tentang berbagai aspek perkembangan anak.
Tanggapan Negatif
Buku ini sedikit membingungkan jika kita tidak cermat dalam memahami buku ini. Dalam buku ini, adanya pembagian poin-poin yang tidak sama dalam penulisannya sehingga harus benar-benar teliti.
Sumber : Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa, Dasar dan Teori Perkembangan Anak, penerbit: Libri, 2011
Selasa, 26 November 2013
perencanaan pembelajaran
Perencanaan pembelajaran
a. Pengertian perencanaan pembelajaran
Dilihat dari terminologinya, perencanaan pembelajaran terdiri atas dua kata, yaitu perencanaan dan kata pembelajaran. Perencanaan berasal dari kata rencana yaitu pengambilan keputusan tentang apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian proses suatu perencanaan harus dimulai dari penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analisis kebutuhan serta dokumen yang lengkap, kemudian menetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Ketika kita merencanakan, maka pola pikir kita diarahkan bagaimana agar tujuan itu dapat dicapai secara efektif dan efisien. Ely (1979), mengatakan bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan. Terry (1993), mengatakan bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah penetapan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Maka setiap perencanaan minimal memiliki empat unsur sebagai berikut:
Adanya tujuan yang harus dicapai
Adanya strategi iuntuk mencapai tujuan
Sumber daya yang dapat mendukung
Implementasi setiap keputusan
Perencanaan merupakan hasil proses berpikir yang mendalam, hasil dari proses pengkajian dan mungkin penyeleksian dari berbagai alternatif yang dianggap lebih memiliki nilai efektivitas dan efisiensi. Perencanaan adalah awal dari semua proses suatu pelaksanaan kegiatan yang bersifat rasional.
b. Arti pembelajaran
Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber daya yang ada baik potensi yang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri seperti minat, bakat dan kemampuan dasar yang dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi yang ada diluar diri siswa termasuk lingkungan, sarana dan sumber belajar sebagai upaya untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Menurut Gagne, mengajar atau teaching merupakan bagian dari pembelajrana (instruction), dimana peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu.
Perencanaan pembelajaran memiliki karakteristik, yaitu:
1. Perencanaan pembelajran merupakan hasil dari proses berpikir, artinya suatu perencanaan pembelajaran disusun tidak asal-asalan akan tetapi disusun dengan mempertimbangkan segala aspek yang mungkin dapat berpengaruh.
2. Perencanaan pembelajaran disusun untuk mengubah perilaku siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
3. Perencanaan pembelajran berisi tentang rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu perencanaan pembelajaran berfungsi sebagaipedoman dalam mendesain pembelajaran sesuai dengan kebutuha.
Manfaat perencanaan
a. Terhindar dari keberhasilan yang untung-untungan.
b. Sebagai alat memecahkan masalah.
c. Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat.
d. Perencanaan akan dapat membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis artinya proses pembelajaran tidak akan berlangsung seadanya, akan tetapi berlangsung secara terorganisisr dan terarah.
a. Pengertian perencanaan pembelajaran
Dilihat dari terminologinya, perencanaan pembelajaran terdiri atas dua kata, yaitu perencanaan dan kata pembelajaran. Perencanaan berasal dari kata rencana yaitu pengambilan keputusan tentang apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian proses suatu perencanaan harus dimulai dari penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analisis kebutuhan serta dokumen yang lengkap, kemudian menetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Ketika kita merencanakan, maka pola pikir kita diarahkan bagaimana agar tujuan itu dapat dicapai secara efektif dan efisien. Ely (1979), mengatakan bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan. Terry (1993), mengatakan bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah penetapan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Maka setiap perencanaan minimal memiliki empat unsur sebagai berikut:
Adanya tujuan yang harus dicapai
Adanya strategi iuntuk mencapai tujuan
Sumber daya yang dapat mendukung
Implementasi setiap keputusan
Perencanaan merupakan hasil proses berpikir yang mendalam, hasil dari proses pengkajian dan mungkin penyeleksian dari berbagai alternatif yang dianggap lebih memiliki nilai efektivitas dan efisiensi. Perencanaan adalah awal dari semua proses suatu pelaksanaan kegiatan yang bersifat rasional.
b. Arti pembelajaran
Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber daya yang ada baik potensi yang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri seperti minat, bakat dan kemampuan dasar yang dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi yang ada diluar diri siswa termasuk lingkungan, sarana dan sumber belajar sebagai upaya untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Menurut Gagne, mengajar atau teaching merupakan bagian dari pembelajrana (instruction), dimana peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu.
Perencanaan pembelajaran memiliki karakteristik, yaitu:
1. Perencanaan pembelajran merupakan hasil dari proses berpikir, artinya suatu perencanaan pembelajaran disusun tidak asal-asalan akan tetapi disusun dengan mempertimbangkan segala aspek yang mungkin dapat berpengaruh.
2. Perencanaan pembelajaran disusun untuk mengubah perilaku siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
3. Perencanaan pembelajran berisi tentang rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu perencanaan pembelajaran berfungsi sebagaipedoman dalam mendesain pembelajaran sesuai dengan kebutuha.
Manfaat perencanaan
a. Terhindar dari keberhasilan yang untung-untungan.
b. Sebagai alat memecahkan masalah.
c. Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat.
d. Perencanaan akan dapat membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis artinya proses pembelajaran tidak akan berlangsung seadanya, akan tetapi berlangsung secara terorganisisr dan terarah.
Rabu, 20 November 2013
komponen kurikulum
Nama : Marinda Pardede
Mata Kuliah : Pengembangan Kurikulum PAK
Dosen pengampu : Drs. Uli Saut P. Nainggolan, M. Th
komponen-komponen KURIKULUM
Sebagaimana dimaklumi bahwa manusia atau binatang sebagai suatu organisme, memiliki susunan atau unsur-unsur anatomi tertentu, dimana yang satu dengan lainnya saling menopang. Demikian halnya dengan kurikulum pendidikan yang di dalamnya terdapat berbagai bagian yang saling mendukung dan membentuk satu kesatuan. Unsur atau komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah : tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi, yang kempatnya berkaitan erat satu dengan lainnya.
a. Tujuan
Dalam kurikulum atau pengajaran, tujuan memegan peranan penting yaitu akan mengarahkan semua kegiatan pengajaran dan mewarnai komponen kurikulum lainnya. Tujuan kurikulum didasarkan pada dua hal, yaitu pertama, perkembangan tuntutan, kebutuhan, dan kondisi masyarakat, dan yang kedua, didasari oleh pemikiran-pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis, terutama falsafah negara. Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistrm Pendidikan Nasional, bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.Tujuan pendidikan nasional yang berjangka panjang merupakan suatu tujuan pendidikan umum, sedangakan tujuan instruksional yang berjangka pendek disebut tujuan khusus. Tujuan khusus memberikan keuntungan yaitu memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan mengajar-belajar siswa, membantu memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar, memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media mengajar, dan memudahkan guru dalam penilaian.
Tujuan mengajar dibedakan atas beberapa kategori, sesuai dengan perilaku yang menjadi sasarannya. Gage dan Briggs mengemukakan lima kategori tujuan, yaitu intelektual skills, cognitive strategies, verbal information, motor skills and attitudes. Bloom mengemukakan tiga kategori tujuan mengajar sesuai dengan domain-domain perilaku individu, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kognitif berkenaan dengan penguasaan kemampuan-kemampuan intelektual atau berpikir, afektif berkenaan dengan penguasaan danpengembangan perasaan, sikap, minat, dan nilai-nilai. Psikomotor menyangkut penguasaan dan pengembangan keterampilan motorik.
b. Bahan Ajar
Siswa belajar dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya, lingkungan orang-orang, alat-alat dan ide. Tugas utama seorang guru adalah menciptakan lingkungan tersebut, untuk mendorong siswa melakukan interaksi produktif dan memberikan pengalaman belajar yang dibutuhkan. Kegiatan dan lingkungan demikian dirancang dalam suatu rencana mengajar. Siswa belajar dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Sebagai perantara mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, diperlukan bahan ajar atau materi pendidikan. Materi pendidikan tersusun atas topik-topik dan sub topik tertentu.
Dalam rangka memilih bahan ajar atau materi pendidikan, beberapa kriteria diantaranya: (1) harus valid dan signifikan, (2) harus berpegang pada realitas sosial, (3) kedalam dan keluasannya harus seimbang, (4) menjangkau tujuan yang luas, (5) dapat dipelajari dan disesuaikan dengan pengalaman siswa, dan (6) harus dapat memenuhi kebutuhan dan menarik minat peserta didik. Gagne mengemukakan 8 tipe beljar yang tersusun secara hierarkis, yaitu: signal learning, stimulus-respons learning, motor-chain learning, verbal association, multiple discrimination, concept learning, principle learning, dan problem solving learning.
c. Strategi Mengajar
Pada saat guru sedang menyusun bahan ajar, ia juga harus memikirkan srategi mengajar mana yang sesuai untuk menyajikan bahan ajar. Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam mengajar:
1. Reception/ Exposition Learning
Reception dan exposition sesungguhnya mempunyai makna yang sama, hanya berbeda dalam pelakunya. Reception learning dilihat dari sisi siswanya, sedangkan exposition learning dilihat dari sisi gurunya. Dalam discovery learning, bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan, bahan serta membuat kesimpulan. Melalui kegiatan tersebut, siswa akan menguasainya, menerapkan serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya.
2. Rote learning – Meaningful Learning
Bahan ajar disampaikan kepada siswa tanpa memperhatikan arti atau maknanya bagi siswa. Siswa menguasai bahan ajar dengan cara menghapalkannya. Dalam meaningful learning, penyampaian bahan mengutamakan maknanya bagi siswa.
3. Group Learning – Individual Learning
Pelaksanaan discovery Learning menuntut aktivitas belajar yang bersifat individual atau dalam kelompok kecil. Discovery learning dalam bentuk kelas pelaksanaannya agak sukar karena beberapa masalah seperti anak pintar yang akan bisa melakukan discovery, sedangkan siswa yang kurang dan lamban, akan mengikuti dan menonton. Dengan demikian akan terjadi perbedaan yang semakin jauh antara anak yang pandai dan kurang.
d. Media mengajar
Media mengajar merupakan segala macam bentuk perangsang dan alat-alat yang disediakan guru untuk mendorong siswa belajar. Rowntree mengelompokkan media mengajar menjadi lima macam dan disebut modes, yaitu:
1. Interaksi insani, media ini merupakan komunikasi langsung antara dua orang atau lebih. Dalam komunikasi tersebut kehadiran sesuatu pihak secara sadar atau tidak sadar mempengaruhi perilaku lainnya.interaksi insani dapat berlangsung melalui komuikasi verbal dan nonveerbal. Komunikasi verbal memegang peranan penting terutama dalam perkembangan segi kognitif siswa. Komunikasi nonverbal : perilaku, penampilan fisik, roman muka, sikap.
2. Realita, merupakan bentuk perangsang nyata seperti orang, binatang, benda, peristiwa yang diamati siswa. Orang hanya menjadi objek pengamatan.
3. Pictorial, menunjukkan penyajian berbagai bentuk variasi gambar dan diagram nyata ataupun simbol. Penyajiannya dapat bervariasi dari bentuk yang paling sederhana seperti sketsa sampai cukup sempurna seperti animasi yang disajikan dalam komputer.
4. Simbol tertulis, media penyajian yang paling umu, tapi efektif. Macamnya yaitu: buku, majalah. Penulisan simbol tertulis biasnaya dilengkapi dengan media pictorial sperti gambar, bagan, grafik.
5. Rekaman suara, berbagai bentuk informasi dapat disampaikan kepada anak didik dalam bentuk rekaman suara.
e. Evaluasi pengajaran
Evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksanaan mengajar secara keseluruhan. Evaluasi disebut juga hasil belajar-mengajar. dalam evaluasi ini disusun butir-butir soal untuk mengukur pencapaian tiap tujuan khusus yang telah ditentukan. Evaluasi formatif ditujukan untuk menilai penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan belajar dalam jangka waktu relatif pendek. Evaluasi formatif digunakan untuk menilai penguasaan siswa setelah mempelajari satu pokok bahasan. Evaluasi sumatif ditujukan untuk menilai penguasaan siswa terhadap tujuan yang lebih luas, sebagai hasil belajar yang cukup lama. Evaluasi sumatif dimaksudkan untuk menilai kemajuan belajar siswa serta menilai efektivitas program secara menyeluruh.
Komponen yang dievaluasi bukan hanya hasil belajar-mengajar, tapi keseluruhan pelaksanaan pengajaran. Untuk mengevaluasi komponen dan proses pelaksanaan mengajar bukan hanya digunakan tes tetapi juga digunakan bentuk nontes, seperti observasi, analisis hsil pekerjaan, angket. Evaluasi dapat dilakuakn oleh guru dan pihak yang berwenang atau diberi tugas.
f. Penyempurnaan pengajaran
Hasil evaluasi, baik evaluasi hasil belajar, meupun pelaksanaan mengajar secara keseluruhan. Sesuai dengan komponen yang dievaluasi, pada dasarnya semua komponen mengajar kemungkinan untuk disempurnakan. Hal ini mungkin dilaksanakan dengan sendiri oleh guru, mungkin dibutuhkan bantuan atau saran dari orang lain.
g. Komponen Pelaksana: pendidik
Pendidikan merupakan proses interaksi antara guru (pendidik) dengan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Pekerjaan mendidik merupakan pekerjaan profesional, sehingga guru sebagai pelaku utama pendidikan merupakan pendidik profesional. Peranan guru sebagai pendidik profesional akhir-akhir ini dipertanyakan eksistensinya, akibat munculnya serangkaian fenomena lulusan pendidikan yang secara moral cenderung merosot dan secara intelektual akademik juga kurang siap memasuki lapangan kerja.
Kalau fenomena tersebut benar adanya, maka baik langsung maupun tidak langsung akan terkait dengan peranan guru sebagai pendidik profesional. Sehingga sejalan dengan hal tersebut terkait dengan masalah pendidik sebagai komponen kurikulum pendidikan, perlu diperhatikan beberapa hal yaitu: kualifikasinya, pengembangan tenaga pendidik.
h. Peserta didik
Banyak sebutan di sekitar kita mengenai peserta didik ini. Ada yang menyebut murid, siswa, anak didik dan berbagai sebutan lainnya. Beberapa hal yang perlu dikembangkan terkait dengan komponen peserta didik (input) antara lain adalah persyaratan penerimaan (rekrutmen) siswa baru. Selain itu juga perlu diperhatikan mengenai rumusan tentang kualitas output peserta didik yang diinginkan, akan dibawa ke mana anak didiknya harus secara jelas dan tegas dirumuskan.
Kemudian yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah jumlah peserta didik yang diinginkan, karena ini akan berkaitan erat dengan kapasitas sarana pendidikan yang dimiliki oleh sebuah lembaga pendidikan. Dan tak kalah pentingnya adalah latar belakang peserta didik, baik itu mengenai pendidikannya, sosialnya, budayanya, pengalaman hidupnya, potensi, minat, bakat, dan lainnya.
i. Bimbingan dan konseling
Bimbingan dan penyuluhan adalah terjemahan dari bahasa Inggris guidance (bimbingan) dan counseling (penyuluhan). Bimbingan mengandung pengertian proses pemberianbantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sedangkan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada klien dalam memecahkan masalah kehidupan dengan wawancara face to face atau yang sesuai dengan keadaan klien yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.
Sedangkan bimbingan dan konseling dalam pendidikan merupakan proses pengajaran dan pembelajaran psikososial yang berlaku dalam bentuk tatap muka antara konselor dengan peserta didik, dalam rangka antara lain memperkembangkan pengertian dan pemahaman pada diri siswa untuk mencapai kemajuan di sekolah. Pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam pendidikan akan efektif dan berhasil apabila dilaksanakan atau dilakukan oleh suatu tim kerja (team work). Kemudian tim kerja inilah kemudian yang akan menyusun program perencanaan kegiatan bimbingan dan konseling di lembaga pendidikan.
Program perencanaan kegiatan bimbingan dan konseling perlu disusun agar upaya kegiatan layanan bimbingan di sekolah benar-benar berdaya guna dan berhasil guna, serta mengena pada sasarannya sebagai sarana pencapaian tujuan pendidikan.
Selain itu dalam kegiatan bimbingan dan konseling perlu diperhatikan pula strategi pendekatannya, jenis program dan layanannya, proses layanan serta termasuk di dalamnya teknik bimbingan dan konselingnya.
Kesimpulan
Kurikulum diumpamakan sebagai suatu organisme manusia maupun bianatang, yang memiliki anatomi tertentu. Begitu juga kurikulum, yang mempunyai unsur-unsur didalamnya antara lain : tujuan, bahan ajar, strategi mengajar, media mengajar, evaluasi pengajaran, penyempurnaan pengajaran, pendidik, peserta didik, bimbingan dan konseling. Satu sama lain berkaitan. Kurikulum harus mempunyai relevansi atau kesesuaian yaitu antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi serta perkembangan masyarakat.
unsur pengembangan kurikulum
Unsure-unsur dalam Pengembangan Kurikulum
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu:
a. Administrator pendidikan
Para administrator pendidikan ini terdiri atas diirektur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor kabupaten, dan kecamatan, serta kepala sekolah. Peranan para administrator di tingkat pusat (direktur dan kepala pusat) dalam pengembangan kurikulum adalah menyusun dasar-dasar hukum, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum. Atas dasar kerangka dasar dan program inti tersebut para admnisitrator daerah (kepala kantor wilayah) dan administrator local (kabupatan, kecamatan, dan kepala sekolah) mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Para kepala sekolah mempunyai wewenang dalam membuat operasionalisasi system pendidikan pada masing-masng sekolah. Para kepala sekolah ini sesungguhnya secara terus menerus terlibat dalam pengembangan dan implementasi kurikulum, memberikan dorongan dan bimbingan kepada guru-guru. Walaupun guru dapat mengembangkan kurikulum sendiri, tapi dalam pelaksanaannya sering harus didorong dan dibantu oleh para administrator. Administrator local harus bekerja sama dengan kepala sekolah dan guru dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mengkomunikasikan system pendidikan kepada masyarakat, serta mendorong pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di kelas. Peranan kepala sekolah lebih banyak berkenaan dengan implementasi kurikulum di sekolahnya. Kepala sekolah juga mempunyai peranan kunci dalam menciptakan kondisi untuk pengmbangan kurikulum di sekolahnya. Ia merupakan figure kunci di sekolah, kepemimpinan kepala sekolah sangat mempengaruhhi suasana sekolah dan pengembangan kurikulum.
b. Para ahli
Pengembangan kurikulum membutuhkan bantuan pemikiran para ahli, baik ahli pendidikan, ahli kurikulum, maupun ahli bidang studi.
Partisipasi ahli pendidikan dan ahli kurikulum terutama sangat dibutuhkan dalam pengembangan kurikulum pada tingkat pusat. Apabila pengembangan kurikulum sudah banyak dilakukan pada tingkat daerah atau local, maka partisipasi mereka pada tingkat daerah, local bahkan sekolah juga sangat diperlukan, sebab apa yang telah digariskan pada tingkat pusat belum tentu dengan mudah dipahami oleh para pengembang dan pelaksana kurikulum di daerah.
Pengembangan kurikulum juga membutuhkan partisipasi para ahli bidang studi yang juga mempunyai wawasan tentang pendidikan serta perkembangan tuntutan masyarakat. Sumbangan mereka dalam memilih materi bidang ilmu, yang mutakhir dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat sangat diperlukan. Mereka juga sangat diharapkan pastisipasinya dalam menyusun materi ajaran dalam sekuens yang sesuai dengan struktur keilmuan tetapi sangat memudahkan para siswa untuk mempelajarinya.
c. Guru
Guru memegang peranan penting yang cukup penting baik di dalam perencanaan dan pelaksanaan kurikulum. Dia adalah perencana, pelaksana, dan pengembangan kurikulum bagi kelasnya. Sekalipun dia tidak mencetuskan sendiri konsep tentang kurikulum, guru merupakan penerjemah kurikulum yang datang dari atas. Dialah yang mengolah, meramu kembali kurikulum dari pusat untuk disajikan di kelasnya. Karena guru merupakan barisan pengembang kurikulum yang terdepan, maka guru pulalah yang selalu melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap kurikulum. Peranan guru bukan hanya menilai perilaku dan prestasi murid, tapi juga menilai implementasi kurikulum dalam lingkup yang lebih luas. Sebagai pelaksana kurikulum maka guru pulalah yang menciptakan kegiatan belajar mengajar bagi murid-muridnya. Berkat keahlian, keterampilan, dan kemampuan seninya dalam mengajar, guru mampu menciptakan situasi belajar yang aktif yang menggairahkan yang penuh kesungguhan dan mampu mendorong kreativitas anak.
d. Orang tua murid
Orang tua juga mempunyai peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan mereka dapat berkenaan dengan dua hal : pertama dalam penyusunan kurikulum dan kedua dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum mungkin tidak semua orang tua dapat ikut serta, hanya terbatas pada beberapa orang saja yng cukup waktu dan mempunyai latar belakang yang memadai. Peranan orang tua lebih besar dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam pelaksanaan kurikulum diperlukan kerja sama yang sangat erat antara guru/ sekolah dengan orang tua mmurid. Sebagian kegiatan belajar yang dituntut kurikulum dilaksanakan di rumah, dan orang tua sewajarnya mengikuti dan mengamati kegiatan belajar anaknya di rumah. Orang tua juga secara berkala menerima laporan kemajuan anaknya dari sekolah berupa rapor, dan sebagainya. Rapor juga merupakan suatu alat komunikasi tentang program atau kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah. Orang tua juga dapat turut berpartisipasi dalam kegiatan disekolah melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, lokakarya, seminar, pertemuan orang tua-guru, pameran sekolah, dan sebagainya.
Melalui pengamatan dalam kegiatan belajar di rumah, laporan sekolaj, partisipasi kegiatan sekolah, orang tua dapat turut serta dalam pengembangan kurikulum terutama dalam bentuk pelaksanaan kegiatan belajar yang sewajarnya, minat yang penuh, usaha yang sungguh-sungguh, penyelesaian tugas-tugas serta partisipasi dalam setiap kegiatan di sekolah. Kegiatan tersebut akan memberikan umpan balik bagi penyempurnaan kurikulum.
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu:
a. Administrator pendidikan
Para administrator pendidikan ini terdiri atas diirektur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor kabupaten, dan kecamatan, serta kepala sekolah. Peranan para administrator di tingkat pusat (direktur dan kepala pusat) dalam pengembangan kurikulum adalah menyusun dasar-dasar hukum, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum. Atas dasar kerangka dasar dan program inti tersebut para admnisitrator daerah (kepala kantor wilayah) dan administrator local (kabupatan, kecamatan, dan kepala sekolah) mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Para kepala sekolah mempunyai wewenang dalam membuat operasionalisasi system pendidikan pada masing-masng sekolah. Para kepala sekolah ini sesungguhnya secara terus menerus terlibat dalam pengembangan dan implementasi kurikulum, memberikan dorongan dan bimbingan kepada guru-guru. Walaupun guru dapat mengembangkan kurikulum sendiri, tapi dalam pelaksanaannya sering harus didorong dan dibantu oleh para administrator. Administrator local harus bekerja sama dengan kepala sekolah dan guru dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mengkomunikasikan system pendidikan kepada masyarakat, serta mendorong pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di kelas. Peranan kepala sekolah lebih banyak berkenaan dengan implementasi kurikulum di sekolahnya. Kepala sekolah juga mempunyai peranan kunci dalam menciptakan kondisi untuk pengmbangan kurikulum di sekolahnya. Ia merupakan figure kunci di sekolah, kepemimpinan kepala sekolah sangat mempengaruhhi suasana sekolah dan pengembangan kurikulum.
b. Para ahli
Pengembangan kurikulum membutuhkan bantuan pemikiran para ahli, baik ahli pendidikan, ahli kurikulum, maupun ahli bidang studi.
Partisipasi ahli pendidikan dan ahli kurikulum terutama sangat dibutuhkan dalam pengembangan kurikulum pada tingkat pusat. Apabila pengembangan kurikulum sudah banyak dilakukan pada tingkat daerah atau local, maka partisipasi mereka pada tingkat daerah, local bahkan sekolah juga sangat diperlukan, sebab apa yang telah digariskan pada tingkat pusat belum tentu dengan mudah dipahami oleh para pengembang dan pelaksana kurikulum di daerah.
Pengembangan kurikulum juga membutuhkan partisipasi para ahli bidang studi yang juga mempunyai wawasan tentang pendidikan serta perkembangan tuntutan masyarakat. Sumbangan mereka dalam memilih materi bidang ilmu, yang mutakhir dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat sangat diperlukan. Mereka juga sangat diharapkan pastisipasinya dalam menyusun materi ajaran dalam sekuens yang sesuai dengan struktur keilmuan tetapi sangat memudahkan para siswa untuk mempelajarinya.
c. Guru
Guru memegang peranan penting yang cukup penting baik di dalam perencanaan dan pelaksanaan kurikulum. Dia adalah perencana, pelaksana, dan pengembangan kurikulum bagi kelasnya. Sekalipun dia tidak mencetuskan sendiri konsep tentang kurikulum, guru merupakan penerjemah kurikulum yang datang dari atas. Dialah yang mengolah, meramu kembali kurikulum dari pusat untuk disajikan di kelasnya. Karena guru merupakan barisan pengembang kurikulum yang terdepan, maka guru pulalah yang selalu melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap kurikulum. Peranan guru bukan hanya menilai perilaku dan prestasi murid, tapi juga menilai implementasi kurikulum dalam lingkup yang lebih luas. Sebagai pelaksana kurikulum maka guru pulalah yang menciptakan kegiatan belajar mengajar bagi murid-muridnya. Berkat keahlian, keterampilan, dan kemampuan seninya dalam mengajar, guru mampu menciptakan situasi belajar yang aktif yang menggairahkan yang penuh kesungguhan dan mampu mendorong kreativitas anak.
d. Orang tua murid
Orang tua juga mempunyai peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan mereka dapat berkenaan dengan dua hal : pertama dalam penyusunan kurikulum dan kedua dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum mungkin tidak semua orang tua dapat ikut serta, hanya terbatas pada beberapa orang saja yng cukup waktu dan mempunyai latar belakang yang memadai. Peranan orang tua lebih besar dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam pelaksanaan kurikulum diperlukan kerja sama yang sangat erat antara guru/ sekolah dengan orang tua mmurid. Sebagian kegiatan belajar yang dituntut kurikulum dilaksanakan di rumah, dan orang tua sewajarnya mengikuti dan mengamati kegiatan belajar anaknya di rumah. Orang tua juga secara berkala menerima laporan kemajuan anaknya dari sekolah berupa rapor, dan sebagainya. Rapor juga merupakan suatu alat komunikasi tentang program atau kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah. Orang tua juga dapat turut berpartisipasi dalam kegiatan disekolah melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, lokakarya, seminar, pertemuan orang tua-guru, pameran sekolah, dan sebagainya.
Melalui pengamatan dalam kegiatan belajar di rumah, laporan sekolaj, partisipasi kegiatan sekolah, orang tua dapat turut serta dalam pengembangan kurikulum terutama dalam bentuk pelaksanaan kegiatan belajar yang sewajarnya, minat yang penuh, usaha yang sungguh-sungguh, penyelesaian tugas-tugas serta partisipasi dalam setiap kegiatan di sekolah. Kegiatan tersebut akan memberikan umpan balik bagi penyempurnaan kurikulum.
Senin, 11 November 2013
silabus perencanaan pembelajaran
SILABUS
PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran :
Pendidikan Agama Kristen
Guru : Marinda Pardede
Kelas : XII SMA/SMK
Standar Kompetensi : Pemuda/ pemudi Kristen dapat menjadi garam dan terang dunia dalam
mengikuti perkembangan zaman
|
No
|
Kompetensi Dasar
|
Indikator
|
Pengalaman Belajar
|
Materi/ pokok/
bahasan
|
Alokasi Waktu
|
Sumber/ bahan/ alat
|
penilaian
|
|
1
|
Menjelaskan
pengertian garam dan terang dunia
|
Mengutip
ayat Alkitab Mat. 5:13-16
|
Mengikuti
pelajaran
|
Pengertian
garam dan terang dunia
|
15
menit
|
Garam
dan lampu/ lilin
|
diskusi
|
|
2
|
Menganalisis
perkembangan zaman yang terjadi tahun ini
|
Mendata
ciri-ciri perkembangan zaman baik dalam pergaulan, dan tekhnologi
|
Membawa
Alkitab dan buku bacaan: Etika Kristen (Dr. J. Verkuyl)
|
Perkembangan
zaman pada masa kini.
Keuntungan
dan kerugian mengikuti perkembangan zaman
|
45
menit
|
Laptop,
internet, modem
|
Pastisipasi
aktif dari siswa
|
|
3
|
Mempraktekkan
dalam kehidupan sehari-hari sebagai garam dan terang dunia
|
Menyikapi
perkembangan zaman dengan menjadi
garam dan terang dunia
|
Mewawancarai
temannya mengenai perkembangan zaman
|
Perubahan
yang harus dilakukan pemuda/ pemudi Kristen
|
20
menit
|
Koran,
majalah, buku
|
ujian
|
Langganan:
Postingan (Atom)